Rabu, 26 September 2007

Kumpul Djempol...

Hri ni baru sempet kumpul2 niy, trus bagi2 tugas gt...
Bis tu k warnet bwt nge-back up blog 'n skalian ngecek posting baru, nyambi nyari data bwt tgs lain... T_T
Skali dayung 2-3 pulau terlampaui, tapi pulaunya ke jauhan jadi lama nyampeny... T_T
gpp lah, toh ujung2nya nyampe koq...
hehehe... ga jelas...

Sabtu, 22 September 2007

Oh...Klanceng

DIBANDING harga madu lebah lain, madu lebah klanceng/lanceng (Apis florea) harganya jauh lebih mahal. Namun demikian, madu hasil produksi lebah yang tidak bersengat itu tetap diburu para penggemarnya.

Hal itu terbukti antara lain madu yang dihasilkan peternak di Dukuh Andong Utara, Desa Ngembal, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan. Kawasan ini berada di bagian bawah wilayah Nongkojajar, sebuah dataran tinggi yang sejuk. Di tempat yang cukup tinggi itu terdapat 23 peternak klanceng dengan jumlah koloni sekitar 1.200 buah.

Setiap koloni klanceng menghasilkan 1–2 kilogram madu per tahun, atau 2-3 botol ukuran 630 mililiter (ml). Tiap botolnya dijual peternak seharga Rp 30.000 dan di toko-toko umum atau koperasi harganya meningkat menjadi paling murah Rp 50.000 per botol.

Padahal, madu hasil lebah lokal (Apis cerana) atau lebah impor (Apis mellifera) untuk ukuran botol yang sama paling tinggi harganya hanya sekitar Rp 20.000 per botol. Ini pun sudah dalam kemasan yang baik dan dipajang di toko-toko atau pasar swalayan.

Menurut informasi pihak Dinas Kehutanan maupun Perhutani, di Jawa Timur saat ini sudah jarang ditemukan lebah hutan (Apis dorsata) karena hutan-hutan yang memenuhi syarat untuk kehidupannya sudah nyaris habis. Hanya sebagian daerah di Banyuwangi, Jember, dan Ponorogo bagian selatan masih ditemukan beberapa koloni lebah ini, namun madunya jarang bisa diambil penduduk.

Karena itu, monitoring dan evaluasi perlebahan yang dilakukan Departemen Kehutanan tahun 2002 hanya meliputi lebah lokal dan lebah impor.

Bahwa lebah klanceng juga tidak direkam kegiatannya oleh Departemen Kehutanan itu mungkin tak diketahui. Sebab lebah klanceng dikenal luas tidak bisa diternakkan, dan jumlahnya pun sangat kecil.

Oleh karena itu, lebah dengan ukuran fisik terkecil ini bisa dikatakan termasuk dalam kategori setengah langka, meskipun di daerah Tutur jumlahnya cukup banyak. Itu pun atas inisiatif dan jerih payah penduduk sendiri tanpa arahan atau binaan dari pemerintah.

Beberapa peternak yang tergabung dalam Kelompok Tani Lebah Madu "Klanceng Medun Jaya" di Kecamatan Tutur itu menyatakan, memang belum pernah dibina instansi mana pun juga, meskipun pada papan namanya tercantum sebagai binaan Dinas Perkebunan dan Universitas Airlangga Surabaya. "Bantuan dana atau penyuluhan belum pernah ada," ujar seorang peternak.
PENGAKUAN beberapa peternak tersebut juga dibenarkan Ketua Kelompoknya, Tarsai (45), yang memiliki 50 kotak klanceng. Peternak Kamid yang memiliki 60 koloni pun mengaku, selama ini kegiatan peternakan klanceng di situ bisa berjalan berkat adanya kerja sama dan tukar pengalaman di antara anggota kelompoknya. "Pak Yunus yang beberapa kali kemari dan memberi nasihat," ujar Tarsai.

Yang dimaksud dengan Pak Yunus adalah Ir Mochammad Junus MS, dosen Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya (Unibraw) Malang yang menekuni perlebahan. Lulusan S-2 bidang Ilmu Ternak IPB Bogor ini juga sebagai konseptor masterplan perlebahan Jawa Timur bersama Departemen Kehutanan Jakarta.
"Saya hanya melakukan pengamatan dan memberikan beberapa nasihat yang bisa digunakan para peternak," kata Mochammad Junus ketika dihubungi. Ditambahkan, pihaknya juga pernah diminta bantuannya oleh TVRI Surabaya untuk meliput peternakan lebah klanceng tersebut.
Sesuai penuturan beberapa peternak, Junus membenarkan, penduduk mencari bibit klanceng di hutan-hutan sekitar tempat tinggalnya. Beberapa peternak juga sudah mahir memperbanyak koloni dengan memecah koloni yang sudah besar.
"Mereka tahu persis larva calon ratunya, bagaimana bentuk kotak yang digemari klanceng, dan bagaimana menaruh kotak itu di tempat yang strategis," ujarnya.
Pengamatan di lokasi peternakan itu menunjukkan kotak-kotak klanceng yang dibuat dari potongan bambu, potongan kayu yang dilubangi, atau akar pohon yang besar dan berlubang. Semuanya dibuat sedemikian rupa sehingga mirip dengan lubang-lubang alamiah kayu/bambu di hutan yang disukai lebah klanceng.

Untuk pengambilan madunya, peternak masih mengalami kesulitan dan belum menemukan cara yang praktis serta higienis. Kebiasaan peternak memilih sisir yang berisi madu lalu dikeluarkan dengan cara memeras. Dengan demikian, sebagian larva ada yang mati dan madu masih tercampur sedikit malam maupun tepung sari sehingga terlihat kurang bersih.
Menurut pengamatan Junus, lebah klanceng lebih banyak menggunakan pepohonan sebagai sumber pakannya (69,2 persen). Sedangkan bagi lebah bersengat (cerana, mellifera, dorsata), pepohonan hanya merupakan 37,8 persen sumber pakannya.

Jika lebah bersengat untuk membela diri menggunakan sengatnya, klanceng hanya menggunakan cairan perekat (semacam lem) sebagai senjatanya. Sasaran perekat itu adalah mata orang yang mengganggunya.

MENGAPA madu klanceng harganya mahal? Konsumen pada umumnya meyakini bahwa kualitasnya, terutama fruktosa dan glukosanya lebih baik dibanding madu lebah lain. Faktor kedua, jumlah produksinya masih sangat sedikit, baik secara keseluruhan maupun produksi per koloni.

Sebagai bandingan, Apis mellifera mampu menghasilkan sekitar 10 kilogram madu per koloni tiap tahun, sementara Apis florea hanya 1–2 kilogram per koloni tiap tahun.
Bagi mereka yang belum lihai membedakan madu, memang sulit membedakan madu klanceng dengan madu lebah lain. Baik tentang warna, kekentalan, maupun rasanya. Bahkan, juga sulit membedakan "madu gula" dengan "madu asli". Madu gula adalah madu lebah yang dihasilkan karena diberi makan gula/tetes, sedangkan madu asli dihasilkan oleh lebah yang mencari makan pada bunga-bunga dan tetumbuhan.

Di pasaran kita juga sering menemukan madu kopi, madu karet, madu lengkeng, madu rambutan, atau madu mixflower, dan sebagainya. Pembedaan itu berdasarkan jenis bunga yang diisap lebah, dan masing-masing jenis memiliki kelebihan maupun kekurangannya. Mahal-murahnya harga tidak selalu berhubungan dengan khasiatnya, tetapi lebih sering ditentukan oleh hukum permintaan dan penawaran.

Bahwa madu mempunyai berbagai khasiat untuk kesehatan manusia, antara lain tercantum dalam Kitab Suci Weda yang kurang lebih menyatakan: "Hidup manusia akan diperpanjang dan diawetkan jika dalam makanannya sehari-hari selalu ada madu…..," (Kompas, 15 November 1988). Dan rasanya tidak ada jeleknya kita mulai mengenal madu, apalagi mengonsumsinya secara rutin.



(Sumber : KOMPAS Senin, 07 April 2003. Oleh : JA NOERTJAHYO)

Tentang Kota Kudus

Indonesia adalah negara kepulauan yang sangat kaya raya dengan segala kekayaan alamnya dan keanekaragaman budayanya yang sudah terkenal sejak jaman nenek moyang. Kemashurannya sudah ada dan tercipta sejak raja-raja berkuasa di Bumi Jawa. Tercatat Kerajaan Majapahit dengan Patihnya Gajah Mada yang berhasil menyatukan Nusantara dengan “Sumpah Palapanya” bahkan konon beberapa negara tetangga juga berhasil ditaklukkan.

Rasanya kita sebagai generasi penerus harus banyak belajar dari para pendahulu agar Bangsa Indonesia menjadi Bangsa yang besar, dihormati dan disegani oleh negara-negara lain di dunia. Sumber daya manusia yang banyak, kekayaan alam melimpah, sampai-sampai Koes Plus menggambarkan indahnya alam Indonesia dalam salah satu lagunya ,” Tongkat Kayu dan Batu Jadi Tanaman”, adalah modal dasar buat membangun Bangsa ke depan.

Melalui catatan kecil ini saya ingin mengajak rekan-rekan untuk mengenal dan mencintai salah satu budaya Indonesia melalui Kota Kudus. Kota Kudus yang terkenal dengan Kota Kretek ternyata menyimpan sejarah yang menarik dalam perkembangan kebudayaan di daerah sekitarnya pada khususnya dan Indonesia pada umumnya. Potensi wisata, budaya setempat, kulinernya, semua menarik untuk dikaji.

Pada akhirnya saya ingin mengajak semua untuk mencintai dan bangga sebagai Bangsa Indonesia. Siapa lagi kalau bukan para generasi muda sebagai penerus tongkat estafet yang telah diberikan oleh para pendahulu kepada kita.

Kota Kudus

Orang biasanya mengenal Kota Kudus sebagai Kota Kretek dengan PT Djarum sebagai pabrik yang terbesar dan diikuti oleh pabrik-pabrik rokok lainnya. Namun lebih dari itu, Kota Kudus ternyata menyimpan sejarah panjang yang menjadi goresan tinta sejarah peradaban.
Karena terletak di jalur Pantura yang merupakan jalur perdagangan yang vital, kurang lebih 53 km dari Semarang atau sekitar 45 menit lewat perjalanan darat dari Kota Semarang menjadikan Kota Kudus sebagai daerah tujuan dagang dan wisata yang menarik untuk dikunjungi.
Nama Kudus sendiri berasal dari bahasa Arab al-Quds yang berarti suci, konon Kudus satu-satunya kota di Jawa yang mengadopsi namanya dari bahasa Arab. Walaupun karakter Islam sangat kuat di Kudus, namun pengaruh Hindu masih tetap berlaku,
Misalnya dilarang menyembelih sapi di dalam wilayah Kota Kudus. Penyebar Islam pertama di Kudus yang bernama Ja’far Shadiq atau lebih dikenal dengan Sunan Kudus mengetahui bahwa sapi adalah binatang suci Umat Hindu.
Kali Gelis yang mengalir ditengah Kota Kudus membagi wilayah menjadi dua bagian yaitu Kudus Kulon ( Barat ) dan Kudus Wetan ( timur ). Pada masa lampau, wilayah Kudus Kulon didiami oleh para pengusaha, pedagang, petani dan ulama, sedangkan Kudus Wetan dihuni oleh para priyayi, cendikiawan, guru-guru, bangsawan dan kerabat ningrat. Dalam perkembangannya ternyata Kudus Kulon lebih maju.
Masjid Kudus
Masjid Kudus dikenal oleh masyarakat karena bentuk arsitektur masjid yang merupakan perpaduan antara budaya Islam dan Hindu. Masjid yang dibangun pada tahun 1549 oleh Ja’far Shadiq memang memilki pesona yang luar biasa. Menara yang terbuat dari bata merah yang aslinya adalah menara peninggalan Hindu yang digunakan sebagai tempat pembakaran mayat para raja dan kaum bangsawan, namun sebagian lain menganggap bahwa menara tersebut adalah menara pengawas dari sebuah rumah ibadat agama Hindu sebelum diubah menjadi masjid.
Menara masjid ini berbentuk seperti Candi Singasari atau Bale Kul-Kul di Bali, sisa peninggalan dari Zaman Hindu yang telah beralih fungsi. Tinggi menara ini kira-kira 17 m dan telah berusia tujuh abad. Bangunan menara terbagi tiga yaitu kaki, badan, dan puncak bangunan. Masjid Kudus tetap mempertahankan bentuk aslinya walaupun telah mengalami beberapa kali pemugaran. Keunikan lain di serambi masjid terdapat sebuah Candi Bentar, penduduk menyebutnya Lawang Kembar yang konon berasal dari Majapahit.
Di belakang masjid adalah makam Ja’far Shadiq dan para pengikutnya yang menempati tanah dua kali lebih luas dari ukuran masjid tersebut. Seperti bentuk gapura depan, memasuki areal taman pemakaman pun yang sudah berumur ratusan tahun tetap cantik dan menarik. Dengan bergaya arsitek Hindu, masing – masing makam tersusun dengan rapi dan dibuat cluster sesuai dengan pangkatnya. Dari golongan prajurit yang paling rendah sampai dengan makam Ja’far Shadiq sendiri yang bertempat di tengah-tengah diantara semua para punggawanya.
Setiap hari selalu saja masjid ini ramai dikunjungi oleh para pengunjung, baik yang hanya sekedar ingin melihat-lihat arsitek bangunan yang unik, maupun yang ingin berziarah ke makam Ja’far Sadiq ( Sunan Kudus ). Selama acara Buka Luwur, yang diadakan tiap tanggal 10 Muharram, tirai yang terdapat di makam ini diganti dan pada saat seperti ini ribuan peziarah akan memadati kawasan makam. Apalagi lokasinya yang terletak di pusat Kota Kudus menjadikan tempat ini sangat mudah diakses, baik dengan kendaraan umum maupun kendaraan pribadi.

Kota Industri Rokok

Kudus juga terkenal karena industri rokoknya dan di kota inilah pertama kali jenis rokok kretek ditemukan oleh seorang penduduk Kudus bernama Nitisemito yang pernah menyatakan bahwa rokok kretek temuannya dapat menyembuhkan penyakit asma. Dia membuat rokok kretek dari tembakau yang dicampur dengan cengkeh yang dihaluskan dan dibungkus dengan daun jagung yang dikenal sebagai rokok klobot. Dia mulai menjual rokok klobot merek Bal Tiga pada tahun 1906.
Nitisemito mempromosikan rokok klobotnya secara intensif dengan menggunakan radio, melakukan tur dengan grup musik bahkan menyebarkan pamflet melalui udara. Akhirnya Kudus berkembang menjadi pusat industri rokok dan pernah tercatat 200 pabrik rokok beroperasi di Kudus dan sekitarnya.
Namun dalam perjalanannya, industri rokok Kudus mengalami rasionalisasi dan hanya tiga perusahaan besar yang mampu menguasai pasaran yaitu ; Bentoel di Malang, Gudang Garam di Kediri dan Djarum di Kudus. Nitisemito termasuk orang yang menjadi korban persaingan industri rokok, ia bangkrut pada tahun 1953.

Saat ini perusahaan rokok kretek utama di Kudus antara lain Djambu Bol, Nojorono, Sukun, dan Djarum. Perusahaan rokok yang terakhir ini adalah yang terbesar di Kudus yang mulai beroperasi sejak tahun 1952. Djarum memiliki pabrik rokok modern yang terletak di Jl. A yani, wisatawan dapat melakukan peninjauan ke pabrik ini tetapi harus meminta ijin terlebih dahulu seminggu sebelumnya. Pabrik rokok Sukun terletak agak di luar kota Kudus. Pabrik rokok ini masih memproduksi rokok klobot yaitu rokok tradisional dimana tembakau digulung dengan daun jagung.

Museum Kretek Kudus

Museum yang didirikan pada tahun 1996 memamerkan sejumlah foto yang menarik mengenai rokok dan alat-alat yang digunakan dalam proses membuat rokok. Museum ini memiliki diorama yang menggambarkan proses produksi rokok kretek; dari penyediaan bahan baku berupa cengkeh, tembakau, daun jagung muda hingga ke proses pengerjaannya dan pemasarannya.
Museum yang terletak di desa Getas Pejaten, sekitar 2 km dari kota Kudus ini buka dari jam 09.00 WIB hingga 16 kecuali Jum’at. Di dekat museum kretek ini terdapat rumah adat Kudus yang terbuat dari kayu penuh ukiran yang merupakan keterampilan masyarakat Kudus yang terkenal. Gaya arsitektur Kudus disebut-sebut berasal dari seorang Imigran dari Cina yang bernama Ling Sing dari abad ke 15.

Gunung Muria

Setelah lelah berkeliling Kota Kudus, silakan mampir untuk menikmati kesejukan Gunung Muria. Gunung Muria terletak 18 km sebelah utara Kota Kudus dan memiliki ketinggian kurang lebih 1700 m. diatas permukaan air laut Selain menampilkan pemandangan khas pegunungan yang indah, keberadaan makam Sunan Muria, air terjun Montel serta bumi perkemahan Hajar semakin menjadi pelengkap tempat ini sebagai salah satu tujuan tempat wisata.
Tempat penginapan sederhana namun lumayan bersih tersedia di shelter terakhir perparkiran mobil. Hotel Pesanggrahan adalah hotel yang dimiliki oleh Pemerintah dan bisa dipakai untuk umum dengan biaya antara Rp 10.000,- sampai dengan Rp 44.000,-. Jika anda ingin menemukan tantangan yang lebih besar, anda bisa mendaki ke Puncak songolikur ( 29 ) yang terletak di atas air terjun Monthel, bisa dipandu oleh pemandu setempat.

Wayang Babad Cirebon Hidup Kembali

Selain diiringi musik gamelan Kecirebonan, wayang babad ini pada beberapa bagian diiringi musik bernuansa Cina dan Arab yang menunjukkan tngginya rasa toleransi beragama di keraton-keraton Cirebon, Jabar, sekitar abad ke-15.

Konsekuensi menampilkan wayang babad, musik-musik bernuansa Cina mau pu Arab harus ditonjolkan sesuai dengan keadaan Cirebon saat itu.

Biaya menghidupkan kembali wayang babad tidak murah karena untuk membuat satu tokoh wayang saja dibutuhkan biaya sedikitnya Rp 75.000 untuk pembelian kulit dan cat. Belum lagi merancang gamelan yang bisa menghasilkan musik bernuansa Cina dan Arab.


Sumber : KOMPAS Senin, 19-07-1999

Etnis China dan Dunia Pasar seni Lukis

Kehadiran etnis China dalam dunia seni rupa Indonesia sebenarnya telah cukup lama. Pada era Soekarno, misalnya, keterlibatan etnis China dalam dunia seni rupa tampak signifikan. Terbukti pada era itu dua pelukis keturunan China, Lee Man Fong dan Lim Wa-Shim, diangkat sebagai Pelukis Istana. Di luar tembok istana bahkan berkembang jaringan kolektor yang dapat mengakses langsung Soekarno, yang kala itu memang sedang bersemangat mengoleksi lukisan. Dari jaringan itu, Soekarno banyak mendapatkan lukisan, baik lukisan bergaya China klasik maupun lukisan modern karya sejumlah pelukis Indonesia yang terkenal saat itu.

Dalam waktu kurang lebih 20 tahun terakhir, dunia seni rupa Indonesia terasa berkembang dalam format yang jomplang. Karya seni lukis diperebutkan dan seakan-akan menjadi primadona, sedangkan kerya seni grafis, seni keramik, patung hampir dapat dikatakan tak tersentuh oleh era komodifikasi. Karena itu, secara sosial sejumlah pelukis tiba-tiba melesat menjadi “seniman borjuis”. Sementara pegrafis, keramikus, dan pematung masih banyak yang hidup biasa-biasa aja.

Sejumlah pelukis tiba-tiba melesat jauh menjadi seorang jutawan, bahkan di antara mereka sudah melesat jauh menjadi seorang miliader. Di antara pelukis yang karyanya laris manis di pasar lukisan ada yang mendirikan museum pribadi, ada yang senang klenceran ke luar negri, ada yang beebrapa kali pergi haji, ada yang gemar mengoleksi mobil/motor antik dan bahkan ada yang perlu menambah istri. Hal ini sebenarnya sebagai gejala perubahan sosial yang amat menarik.


Sumber : KOMPAS Minggu,12-11-2006, Halaman 29

Penghapusan Diskriminasi, Bukan Sekadar Barongsai dan Imlek

Atraksi Barongsai yang pada masa pemerintahan orde baru dipandang sangat tabu kini digelar dari tempat-tempat terbuka hingga hotel berbintang. Televisi swasta juga sudah menayangkan berita dalam bahasa mandarin. Iklan-iklan menyongsong Hari Raya Tahun Baru Imlek (24 Januari 2001) mulai menjamur di media massa, lengkap dengan huruf Cina. Upaya penetapan imlek menjadi Hari Raya Nasional juga sudah dilakukan.

Kebebasan yang dialami masyarakat Cina itu tidak terlepas dari kebijakan pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid. Presiden Abdurrahman Wahid telah mengeluarkan Keputusan Presiden (Keppres) No 6/2000 yang mencabut Instruksi Presiden (Inpres) No 14/1967 tentang Agama, Kepercayaan, dan adat istiadat Cina. Dengan Keppres No 6/2000 itu, warga keturunan Cina diperbolehkan menyelenggarakan kegiatan keagamaan, kepercayaan dan adat istiadat Cina tanpa harus meminta izin khusus.

Di balik fenomena eforia itu, tidak berarti penghapusan diskriminasi sudah terjadi. Perlakuan itu terasa kalau masyarakat keturunan Cina berhadapan dengan instansi pemerintah di lapangan untuk mengurus surat-surat penting, seperti akte kelahiran, akte perkawinan dan paspor. Pengurusan surat-surat semacam itu sebagian didasarkan juga pada produk perundang-undangan warisan Belanda.

Perlakuan diskriminatif tidak hanya merupakan akibat produk perundang-undangan yang diskriminatif, melainkan juga kultur diskriminatif yang tercipta dan diciptakan selama puluhan tahun. Oleh karena itu, kerangka normatif dan hukum tidak serta merta dapat menghapus perlakuan, seperti perlakuan aparat pemerintah terhadap masyarakat keturunan Cina saat mengururs surat-surat penting. Upaya penghapusan itu harus juga dilakukan secara kultural.

Menurut Direktur Eksekutif Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (Elsam) Ifdal Kasim, atraksi barongsai, termasuk merayakan Hari Raya Tahun Baru Imlek dengan lebih bebas daripada masa lalu, merupakan hal yang masih baru. Namun, lama kelamaan, hal itu mengubah pola pikir aparat pelaksana birokrasi di tingkat bawah. Dengan demikian, secara kultural, masyarakat dapat terbiasa dengan kebiasaan dan adat istiadat Cina yang selama ini ditabukan.


Sumber : KOMPAS senin, 22-01-2001, Halaman 18

“Tionghoa: DIALEKTIKA SEBUAH ETNIS”

Keputusan Presiden(Keppres) No 6/2000 tentang pencabutan Instruksi Presiden (Inpres) no.14/1967 telah membawa eforia kebebasan mengekspresikan diri dari warga Tionghoa. Aktualisasi simbol-simbol etnis mewarnai perubahan dalam masyarakat Indonesia sekarang ini sehingga sangat menarik dikemukakan sebagai gambaran dinamika sosial yang terjadi dalam hubungan antar etnis.

Bagi sebagian masyarakat keturunan Toinghoa, Keppres ini seolah-olah menjadi titik balik yang menentukan bagi kembalinya hak-hak budaya etnis Tionghoa. Dengan begitu perayaan-perayaan pesta agama dan adat istiadat Cina yang dulu dibelenggu lewat Inpres No 14/1967 kini bisa dirayakan di mana-mana. Langkah ini kemudian diperkuat oleh pemerintah dengan mengeluarkan Surat Keputusan Menteri Agama RI Nomor 13 tahun 2001 yang menetapkan Hari Raya dan Tahun Baru Imlek sebagai hari libur fakultatif, membolehkan libur bagi pengajar dan pegawai etnis Tionghoa yang sedang merayakan Imlek.

Perubahan ini tidak boleh disalahartikan menjadi proses “pengtionghoaan” kembali warga keturunan Tionghoa di Indonesia tetapi hendaknya dipandang ke arah demokratisasi.


Sumber : Kompas Rabu, 14-03-2001

“PECINAN DAN SEJARAH KE-CINA-AN

Di tengah semaraknya perayaan Imlek, yang notabene diakui oleh Pemerintah RI sebagai hari raya nasional, tulisan ini hendak mengajak pembaca untuk menelaah Pecinan sebagai sebuah locus, warisan, dan dinamika budaya “asli” Cina di Indonesia.

Istilah “Pecinan” lebih merupakan kantung-kantung pendatang yang kosmopolit, telah memainkan peran sebagai pusat-pusat pertumbuhan dan rantai penting ekonomi bagi kerajaan-kerajaan Nusantara di era perdagangan maritime.

Klenteng-klenteng, karena peran sentralnya sebagai pusat komunitas masyarakat dan pelestarian budaya Cina, secara fisik dan ritual tampil konservatif sehingga mamu tampil sebagai ikon identitas Cina yang dilestarikan dan direproduksi hingga kini. Sebagai contoh, keberadaan “Kampoeng China” di Cibubur dan “Masjid HM Cheng Ho Indonesia” di Surabaya juga akhirnya turut menggambarkan citra ke-Cina-an dengan mengambil bahasa-bahasa arsitektural yang kerap kali muncul di brosur pariwisata, majalah, atau siaran televisi. Citra-citra sejenis, seperti Naga, barongsai, juga kerap ditampilkan pada era pasca Orde Baru, seakan-akan merupakan satu-satunya cara menggambarkan kiprah kebudayaan Cina di Nusantara ini.

Pecinan-pecinan sebenarnya merupakan saksi hidup sejarah yang masih menyimpan ritual, prosesi, dan mitos-mitos yang sebenarnya menggambarkan kekayaan khazanah budaya yang sedang digali lebih lanjut. Jika kita dapat melakukannya, tentu saja kita tidak lagi perlu mengimpor berbagai atribut ke-Cina-an buatan Singapura, Taiwan, atau Hongkong.

Kompas Minggu, 16-03-2003
oleh : Setiadi Sopandi

“RI TERIMA BUDAYA CINA”

Diterimanya ragam budaya asing dalam masyarakat Indonesia yang majemuk merupakan bagian dari upaya untuk menegakkan demokrasi. “Konsekuensinya adalah bahwa kita harus menghargai kebudayaan apa pun yang datang dari mana pun, termasuk yang datang dari Cina,” kata Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dalam keterangan persnya.

Selain itu Gus dur juga menjelaskan tentang kemungkinan peninjauan ulang peraturan-peraturan yang tidak sesuai dengan semangat demokrasi. Inpres No.14 Tahun 1967 ini antara menyebutkan bahwa tata cara ibadah Cina yang memiliki aspek afinitas cultural yang berpusat pada negeri leluhurnya, pelaksanaannya juga harus dilakukan secara intern dalam hubungan keluarga atau perseorangan.

Gus Dur mengemukakan, hal-hal yang menyangkut konfusianisme sebagai sebuah ajaran agama, selama ini banyak orang sering salah paham. “Pemerintah itu ingin memberikan kesempatan yang sama kepada semua agama, itu intinya, termasuk Konghucu. Kita memberikan hak hidup kepada semua pihak,” ujarnya.

Sumber : Kompas Jumat, 03-12-1999


Makan Ati... makan Mie

Pagi cerah... tapi muka kita suram T-T

Data yg udah kita ketik cape2 bgitu dibuka di blog tnyt lom kluar2... akhirnya b'ulang2 kali kt posting lagi!!
Sebel....!!
Mana perut udah keroncongan...
Bhubung susah nyari makanan hr mgg gni, ditambah bln puasa pula... ahirnya dg sgt tpaksa 
+ ngeness... kt makan mie remess...
Novi 1 pcs, Lena 2 pcs...
Yah, itulah sarapan pagi hari kami...

“ASIMILASIONISME VS MULTIKULTURALISME”

Sumber : Kompas Rabu, 14-03-2001. Halaman: 30

Tragedi 1998 di Jakarta adalah bencana yang mungkin sulit dilupakan warga Indonesia keturunan Cina.
Peristiwa yang menyebabkan ratusan bahkan ribuan warga keturunan Cina meninggalkan Jakarta itu telah menjelaskan apa yang selama ini ditutup-tutupi di balik jargon “kehidupan yang harmonis” antar kelompok masyarakat.

Selama 32 tahun, pemerintahan
Orde Baru telah memperlakukan keberagaman suku, agama, kepercayaan, bahasa, dan etnis secara tidak netral. Keberagaman sering dicurigai sebagai salah satu faktor dominan yang mengancam stabilitas nasional. Potensi konflik SARA telah diperlakukan sebagai sesuatu yang tidak boleh kelihatan; ia disembunyikan ke dalam karpet tebal “Persatuan dan Kesatuan”.

Pemerintahan Orde Baru mempraktikan model pengelolaan masyarakat yang multi-etnik ini dengan pendekatan asililasionisme; bahkan terdapat kecenderungan “penyeragaman” pendekatan pemikiran yang disebut “bias asimilasi”. Bias ini tampak sekali dalam berbagai pendapat para tokoh ; juga mengemuka dalam diskusi, ketika menyoroti konflik antar-etnis Madura-Dayak di Sampit dan Palangkaraya.

Dan akhirnya Pemerintahan Orde Baru menjalankan model campuran pendekatan asimilasionisme dan diferensialisme kepada masyarakat etnis Cina. Namun secara umum, dua pendekatan yang cenderung rasialis dan (dengan sendirinya) bertentangan dengan
Hak Asasi Manusia (HAM) ini mewarnai berbagai kebijakan Negara Orde Baru dalam menghadapi persoalan masyarakat Indonesia yang multi-etnik ini.

Kamis, 20 September 2007

Prassati Cina di Jawa

Tinjauan Buku
PRASASTI CINA DI JAWA
Oleh : Dr Asvi Warman Adam, Peneliti dari LIPI.
Judul : Chinese Epigraphic Materials in Indonesia, part 1&2,
Penulis : Claudine Salmon & Anthony K.K. Siu

Buku ini membahas tentang prasasti-prasasti di Jawa dan ternyata dari sekian banyaknya prasasti di Indonesia, terdapat prasasti yang berlokasi di makam dan klenteng masyarakat Tiong Hoa yang berada sejak abad ke-18. Prasasti tersebut merupakan sumber untuk mengetahui data tentang orang Tiong Hoa yang tinggal di Indonesia terutama tempat mereka berasal.
Dari data pada prasasti tersebut diketahui penyebaran pemukiman Cina dan pembangunan lokal oleh administrator Belanda.
Dari data-data yang ditemukan, nama-nama yang terdapat di makam dan klenteng tersebut ditulis berdasarkan aksara mandarin, sebagian ada juga yang ditulis dalam dialek Hokkien.
Terdapat 860 prasasti di Sumatera dan 1.260 di Jawa. Meskipun kedatangan etnis Cina di Sumatera lebih awal (dibuktikan lewat prasasti tertua tahun 1469), kontinuitas permukimannya tidak tampak dalam prasasti.
Secara keseluruhan prasasti tersebut terdapat di DKI dan Jawa Barat totalnya 411 prasasti. 173 buah di Jabotabek, di Jawa Tengah 558 prasasti (155nya terdapat di Semarang), di Jawa Timur 292 buah (69nya terdapat di Surabaya). Rendahnya jumlah prasasti di Jawa Timur mungkin memperlihatkan bahwa asimilasi di sini berjalan luas.

(sumber : KOMPAS Sabtu, 30-03-2002 ; Hal. 33)

Kesimpulannya :
Data ini kami dapatkan waktu ke Perpustakaan Kompas.
Dari bahasan di atas dapat kita ketahui bahwa etnis Cina sudah cukup lama loh tinggal di Indonesia. Bearti sejak jaman dahulu sudah mulai ada kulturisasi budaya Cina dengan Indonesia. Terlebih lagi di Pulau Sumatera, sejak tahun 1469! wow! sudah sejak 6 abad yang lalu!

Rokok Kretek dan Etiketnya, Sebuah Kajian Historis

Rokok Kretek dan Etiketnya, Sebuah Kajian Historis
OLEH INDRIYANTO OS

PERKEMBANGAN rokok kretek di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari tanaman tembakau dan cengkeh. Campuran kedua yang kadang-kadang dicampur lagi dengan kemenyan, merupakan rokok kretek khas Indonesia.

Suatu hal yang menarik bahwa pada mulanya orang merokok bukan karena gengsi, aksi atau berhubungan dengan penampilan, bahkan kejantanan. Semua perokok mengatakan bahwa persekutuannya dengan rokok selalu diawali dengan rasa muak, batuk, pusing, dan perasaan tidak enak lainnya, tetapi toh mereka bersekutu juga dengan rokok. Meskipun bau asap rokok kretek sangat menyengat dan tidak mengenakkan bagi hidung orang Barat, tetapi orang bergurau itulah yang menyebabkan orang Barat mencari cengkeh dan menjadikannya salah satu ekspor utama Hindia Belanda.

Industri rokok kretek di Indonesia diperkirakan berkembang pada 1870 sampai 1880-an. Bentuk-bentuk rokok pada masa itu tidak seperti sekarang. Kretek dengan klobot merupakan kretek paling umum digunakan orang. Pada zaman Jepang atau tahun 1940-an beberapa merek rokok yang terkenal antara lain Kooa dan Mizuho, kemudian ada juga yang agak murah yaitu merek Semangat dengan tembakau yang konon bercampur dengan daun sawo yang dikeringkan (Fuad Hasan, 1987: ix).

Perusahaan rokok kretek pertama di Indonesia adalah perusahaan rokok Mari Kangen di Sala, yang kemudian disusul oleh perusahaan rokok Sampoerna di Surabaya. Pada awal abad XX banyak perusahaan rokok kretek beroperasi di Kudus. Salah satu perusahaan yang terkenal adalah perusahaan rokok cap Bal Tiga yang dikelola oleh raja rokok Nitisemito. Sejak 1928 terjadilah perubahan penting dalam industri rokok kretek di Kudus, yaitu meluasnya wilayah industri menuju distrik Kudus, Tenggeles, Cendono, dan beberapa wilayah lain di Jawa.

Pertengahan abad XX distribusi rokok kretek mulai menyebar ke luar pulau Jawa. Selain itu, orang juga mengenal jenis rokok sigaret kretek (papier sigaretten), rokok kretek yang dibuat dengan menggunakan alat pelinting dan bahan pembungkus dari kertas (Onghokham, Amen Budiman, 1987: 114).

Perkembangan industri rokok kretek itu sendiri juga tidak bisa dilepaskan dengan etiket rokok yang melekat pada masing-masing kemasan bungkus rokok yang diproduksi oleh suatu industri. Etiket rokok selain berfungsi sebagai jati diri sebuah industri rokok, juga menjadi alat promosi untuk menarik perhatian pembeli. Dengan demikian etiket rokok juga menjadi instrumen pemasaran karena etiket rokok merupakan alat komunikasi pertama yang menjembatani antara produsen dan konsumen.

Etiket rokok selain sebagai sebuah karya seni rupa juga mengandung sbeuah konsep komunikasi. Apakah konsep komunikasi yang ada pada etiket rokok benar-benar berfungsi efektif dan berperan dalam mengubah perilaku seseorang dalam mengonsumsi rokok kretek?

Menurut penuturan beberapa perokok atau narasumber, mereka merokok kretek tidak banyak dipengaruhi oleh etiket rokok. Memang ada unsur ketertarikan seseorang untuk membeli rokok kretek tertentu akibat membaca atau melihat etiket rokok kretek di pasaran. Tetapi, unsur utamanya terletak pada rasa dan kenikmatannya. Tak heran bila banyak perokok, terutama yang bermukim di daerah pedesaan atau kota kecil, melakukan aktivitas merokok dengan cara melinting kretek sendiri. Perokok yang terikat merek tertentu menyatakan bahwa ikatan ini lebih banyak didasari oleh rasa dan kenikmatannya ketimbang pengaruh sebuah etiket atau merek.

Bagaimana perkembangan etiket rokok itu sendiri, khususnya dari segi seni rupa?

Rupanya tidak banyak sumber sejarah yang bisa menjelaskan perkembangan seni rupa etiket rokok. Dari berbagai gambar etiket rokok yang berkembang dari tahun ke tahun menunjukkan kecenderungan statis dan sederhana. Tidak ada perubahan drastis dari gambar tersebut. Sejak rokok kretek dipasarkan oleh suatu perusahaan sampai perusahaan itu tidak memproduksi lagi, hampir bisa dilihat bahwa tidak ada perubahan yang prinsipil dalam gambar. Bahkan kecenderungan untuk mempertahankan gambar awal yang diperkenalkan dalam etiket rokok itu terus dijaga. Perubahan kadang terjadi pada kemasan bungkus rokok atau warna etiket, bukan pada gambar utama yang dijadikan trade mark-nya. Etiket rokok kretek lebih memberikan kesan kepada konsumen untuk mudah diingat.

Apabila dilihat dari gambar utama yang ada di etiket rokok dapat dibedakan dalam beberapa jenis atau macam, antara lain tumbuhan , buah-buahan, binatang, tokoh atau orang, gedung atau bangunan, peralatan hidup, tokoh wayang, alam, aktivitas manusia, dan lain -lain. Dari berbagai jenis etiket rokok kretek tampaknya merek atau cap rokok kretek berjenis buah atau tumbuhan dan binatang menempati posisi dominan. Lalu, alasan atau dasar apa yang digunakan untuk menentukan sebuah etiket merek rokok? Rupanya sebuah etiket dan merek atau cap suatu kretek tertentu lebih banyak didasari oleh filosofi tertentu yang memberi makna tertentu pula. Penentuan ini lebih bersifat subjektif dari pemilik perusahaan. Tidaklah heran bila ada pula jenis-jenis etiket kretek yang menggunakan cap agak aneh, seperti kretek cap Kaki Tiga, Naga Bulan, Grendel, dan sebagainya.

Metode historis akan mengungkapkan perkembangan kretek dan etiket, baik ditinjau dari segi promosi, filsafat, dan seni. Penggunaan oral historis untuk mengisi kekosongan data lebih ditekankan dalam analisanya.*


Indriyanto OS, dosen sejarah Universitas Diponegoro, Semarang

(Sumber : http://www.mesias.8k.com/rokok.htm)

Aku ingin Hijau

Guys! Kami 3 djempol adalah pencinta lingkungan dan pendukung berat Stop Global Warming!
Lihat artikel-artikel tentang lingkungan diblog ini de.. menarik banget!
http://akuinginhijau.wordpress.com/
ada di link kita. klik aja!
Stop Merokok. Bukan Karena Asapnya, Tapi Proses Pembuatannya.

Semua barang yang kita konsumsi memerlukan energi dalam proses pembuatannya. Dari yang termudah seperti memakan strawberry yang kita petik sendiri sampai kertas yang kita pakai sehari-hari. Seperti tanaman lainnya, strawberry memerlukan waktu untuk tumbuh dan dalam perjalanannya memerlukan air, pupuk dan tenaga manusia juga. Kertas mungkin memiliki rantai yang lebih panjang, dari penanaman pohon, penebangan, lalu melalui semua proses yang ada di pabrik yang memerlukan banyak sekali energi, sampai transportasi ke tempat dimana kertas itu kita pakai, dan kita buang.

Paling tidak kalau kertas tadi dipakai untuk keperluan bisnis seperti membuat kontrak, sales order, atau laporan manajemen, kertas tersebut mendapat nilai lebih. Tetapi kalau kita bicara tentang rokok, maka nilainya mungkin lebih banyak negatifnya daripada nilai tambahnya. Bukan hanya dari sisi kesehatan, tetapi pada akhirnya rokok tersebut hanya dihisap untuk dibuang, lalu sampah puntung pun menjadi problem masyarakat karena hanya sekitar 10-15% puntung rokok yang dibuang secara benar. Yang lainnya dibuang sembarangan ke jalan-jalan yang akhirnya memenuhi sungai dan laut kita.

Kalau kita bicara soal asap rokok, memang dibandingkan kita bernafas kadar CO2 diasap rokok tergolong kecil, tetapi kalau bernafas dan merokok pada akhirnya total CO2 yang dikeluarkan lebih besar dari yang seharusnya. Asap rokok juga menjadi polusi bagi perokok pasif yang menghirupnya serta membuat sekitarnya bau juga. Tetapi memang yang membuat merokok itu merusak lingkungan bukan karena perbuatan merokok, tetapi pembuatan rokok itu sendiri yang pada akhirnya rokok tersebut akan dibuang. Kita tahu bahwa dengan membeli rokok maka kita akan membuang pembungkus rokok dan puntungnya.

Pembuatan rokok memerlukan banyak sekali proses serta industri pendukung yang bila kita perhatikan memakai banyak sekali energi.
Kertas rokok. Seperti kertas lainnya, kertas rokok juga memerlukan pohon yang diproses menjadi bubur sebelum akhirnya dicetak menjadi kertas rokok dan di printing untuk nama dan logo
Tembakau. Tembakau adalah campuran utama rokok yang dalam prosesnya memerlukan air, pupuk, bahan kimia, pestisida, hingga gudang, transportasi, serta manusia yang menjalankan semua ini.
Bumbu yang dipakai untuk blending dengan tembakau seperti cengkeh dan bahan lainnya yang perlu diproses.
Proses melinting secara manusia
Proses manufacturing yang memerlukan mesin dengan kebutuhan energi yang besar
Industri pembungkus rokok dan printing
Transportasi ke setiap daerah penjual
Gudang yang diperlukan dalam transit atau gudang distribusi
Dan lainnya yang belum tersebut hingga proses pembuangan sampahnya

Itulah, memang setiap barang tidak bisa tidak melewati banyak proses yang juga dilewati oleh rokok, tetapi bila pada akhirnya rokok tersebut hanya untuk dibakar, dihisap dan dibuang, itu benar-benar membuang hasil bumi, energi dan tenaga sia-sia yang akhirnya juga menyebabkan penyakit.

Apa kita mau terus digerogoti oleh kecanduan yang merugikan Bumi kita, lingkungan, dan pada akhirnya diri kita sendiri? Stop Merokok! Bukan untuk kesehatan saja tetapi juga lingkungan. Dan pada akhirnya kalau kita bisa Stop Merokok, kita juga akan menghemat uang juga.

(Sumber: WORLDPRESS ; http://akuinginhijau.wordpress.com/2007/07/08/stop-merokok-bukan-karena-asapnya-tapi-proses-pembuatannya/)

3 Djempol:
"Ayo, stop merokok demi masa depan! Rokok itu merusak kesehatan, sia-sia dan menghabiskan uang loh. Belum lagi merusak lingkungan dan merugikan orang lain yang menjadi perokok pasif"

Selasa, 18 September 2007

Website BPOM

Hi...hi... kalau lagi sibuk banyak tugas, ga sempat ke BPOM.....
Kalian bisa coba cek produk-produk dari websitenya aja.. lumayan lengkap..

Caranya:
  1. Buka http://www.pom.go.id/ ada di linknya si djempol
  2. Lihat ke kiri, ada tulisan komoditi, pilih salah satu katagori, lalu klik.
  3. Lihat ke kiri lagi (wah kayak lagu beyonce ~,~) klik pada registrasi.
  4. Lalu berganti windows, ada 2 pilihan yaitu prosedur registrasi dan daftar produk teregistrasi.
  5. Lihat ke kanan, ntar ketemu tulisan cari ______ (tergantung katagori yang kalian pilih), klik disitu.
  6. Berganti windows ntar ada tulisan cari produk, dibawahnya ada dua kotak, yang satu kotak untuk cari, yang satu kotak untuk klasifikasi, pada klasifikasi, biar mudah pilih yang semua. lalu isi merk yang mau dicari pada kotak cari.
  7. Selamat mencoba dan semoga menemukan.

Jamu Tidak Berkadaluarsa

Dinas Perindustrian Tegur Pedagang Jamu

PURWOKERTO-Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Banyumas menegur pemilik kios dan warung serta meminta mereka tak menjual jamu tradisional PT. Sebab, dalam kemasan jamu itu tak tercantum masa kedaluwarsa. Apalagi diduga jamu itu bercampur bahan kimia.

Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Karno M Noh, kemarin, menyatakan jamu itu laku keras di pasaran.

Sebungkus jamu berisi dua tablet atau kapsul itu dijual Rp 1.000. Jamu itu banyak ditemukan di kios dan warung, terutama di Kecamatan Rawalo, Jatilawang, dan Wangon.

''Dinas Perindustrian memiliki barang bukti. Di kemasan tak tercantum masa kedaluwarsa dan diproduksi sebuah perusahaan di Jakarta. Namun kami menduga produsen itu fiktif.''

Di kemasan tertulis "Depkes RI dan TDP (tanda daftar perusahaan) 110826000024". Namun, ujar dia, melihat tanda daftar perusahaan itu jelas dari Cilacap. ''Pencantuman tulisan produksi PJ AA Jakarta saja sudah tak sesuai.''

Dia melayangkan surat peringatan dan teguran lisan ke pemilik warung dan kios. Sebab, produsen jamu itu tak memenuhi ketentuan.

Berdasar keputusan Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) bernomor HK.00.05.23.02769 tentang Pencantuman Asal Bahan Tertentu, Kandungan Alkohol, dan Tanggal Kedaluwarsa pada Penandaan/Label Obat, Obat Tradisional, Suplemen Makanan, dan Pangan serta UU Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen Pasal 8 Ayat 1 Huruf g, kata dia, produsen yang tak mencantumkan tanggal kedaluwarsa bisa dipidana penjara paling lama lima tahun dan denda paling banyak Rp 2 miliar.

Dinas Perindustrian tak cuma menyoal jamu PT. Semua produsen makanan, minuman, jamu, dan produk lain harus mencantumkan masa kedaluwarsa.

''Kali ini baru jamu PT yang kami temukan. Kami menyita makanan dan minuman kedaluwarsa di toko, kios, warung dan supermarket. Ada pula yang ditarik distributornya.''

Untuk mengetahui kandungan jamu PT, Dinas Perindustrian telah mengirim sampel untuk diteliti di Laboratorium Balai POM Semarang.

''Sebelumnya sampel jamu dibawa ke laboratorium di Yogya. Namun karena berada di Jawa Tengah disarankan diteliti di Semarang.'' (G23-53)

(Sumber: Suara Merdeka)

Jamu+Semen Putih=Bahaya

Polri: Jamu Bercampur Semen Putih Beredar Luas


Jakarta (ANTARA News) - Badan Reserse Kriminal Polri menemukan empat pabrik dan gudang jamu di Jawa Tengah yang mengandung campuran semen putih dan telah beredar secara luas di Indonesia.

"Jadi selama tiga tahun ini, sudah berapa banyak semen putih yang masuk ke dalam perut bangsa kita sebab pabrik-pabrik itu telah beroperasi sejak tiga tahun lalu," kata Direktur V Badan ReserseKriminal Polri Brigjen Pol Hadiatmoko di Jakarta, Selasa.

Dikatakannya, semen putih itu dicampur dalam ramuan jamu dengan tujuan untuk mengeraskan tablet yang dibuat.

"Zat ini sangat membahayakan tubuh," katanya menegaskan.

Ia mengatakan produksi keempat pabrik itu yang berada di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah telah menjangkau seluruh Jawa, Sumatera dan sebagian Sulawesi.

"Kendati jumlah pabrik ada empat dan memproduksi 25 jenis jamu, semua itu hanya dimiliki oleh satu orang bernama SRNG yang kini ditahan sebagai tersangka," katanya.

Polisi juga menyita seluruh barang bukti yang ditemukan di lokasi pabrik yang setiap bulan beromzet Rp7 miliar hingga Rp10 miliar.

"Enam ruangan sel Polres, aula, ruang intelkam dan parkir Mapolres Banyumas penuh oleh barang bukti. Ada 75 orang yang dikerahkan untuk mengangkut barang bukti dari lokasi ke Mapolres mulai jam 10.00 WIB hingga jam 06.00 WIB esok harinya," katanya.

Barang bukti itu adalah 2,9 juta sachet obat tradisional berbagai merk, 1,45 juta butir kapsul, 600 kg paracetamol, 480 ribu tablet dexamethasonum, 1,4 juta lembar pembungkus, 37 mesin, empat mobil dan truk dan empat pabrik.

Kendati tersangka SRNG memproduksi 25 jenis jamu ilegal dalam bentuk tablet, kapsul dan serbuk, bahan bakunya sama yakni temulawak, kapulaga, bunga peka, lempuyang, daun kayu putih dan lengkuas.

Bahan campurannya adalah parachetamol, dexamethasonum, CTM dan antalgin.

"Semua bahan baku obat tradisional itu digerus halus lalu dicampur bahan kimia sesuai kebutuhan dengan dosis tertentu," katanya.

Tidak itu saja, setiap kemasan jamu yang tidak laku maka akan ditarik kembali lalu diracik ulang dan dijual dengan kemasan yang berbeda.

"Yang cukup berbahaya adalah mereka membuat racikan khusus untuk anak-anak dengan harapan agar cerdas. Agar terasa manis maka ditambah gula atau pemanis buatan," ujarnya.

Polisi kini masih memburu tersangka bernama AGS yang diduga kuat menjadi pemasok bahan kimia keempat pabrik jamu itu.

Para tersangka akan dijerat UU No 23 tahun 1992 tentang kesehatan dan UU No 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen.(*)

Copyright © 2007 ANTARA

Memberdayakan Jamu Tradisional

Memberdayakan Jamu Tradisional

(oleh Tasroh)

BELAKANGAN ini media memberitakan kasus jamu tradisional asal Banyumas yang diduga mengandung Bahan Kimia Obat (BKO). Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menemukan 500 kotak besar jamu dan ribuan kemasan jamu yang diduga mengandung BKO yang dilarang.

Jika mencermati, kasus kisruh jamu tradisional nyaris tiap tahun ditemukan pelanggaran. Sementara itu, perajin jamu kebingungan sekaligus mengeluh. Mereka mengeluh bagaimana harus berbuat di tengah kesulitan hidup. Berusaha dan mengembangkan potensi lokal Banyumas berupa jamu tradisional yang sudah turun-temurun dijalani ternyata susah, ruwet bahkan sering berakhir "sial" karena selalu saja berurusan dengan penegak hukum.

Disebut susah karena untuk mendirikan usaha di zaman krisis ini butuh kesabaran, ketabahan luar biasa. Tanpa itu maka usaha bisa mudah bubar. Dikatakan ruwet karena untuk sampai pada produksi jamu tradisional butuh berliku-liku izin usaha sampai thethek bengek birokrasi perdagangan lainnya yang menguras tenaga, waktu dan biaya. Disebut sial karena keliru sedikit pun masalah mudah membesar bahkan tak jarang selalu diteror, diancam hingga diberangus oleh berbagai pihak.

Mengikuti Prosedur

Saring, (35), pelaku "pelanggaran" sekaligus pembuat jamu BKO di Desa Dukuhwaluh, Kecamatan Kembaran, Banyumas yang kini terancam dijadikan tersangka karena meracik jamu tradisional berbahan kimia obat, mengaku telah mengikuti prosedur, bahkan selama ini usahanya juga diawasi oleh pemda setempat.

Belajar dari beberapa kasus serupa yang dialami oleh perajin jamu tradisional asal Cilacap beberapa waktu lalu, (tahun 2002-an), kini Dinas Perindustrian dan Perdagangan juga selalu mengawasi secara reguler. Tetapi ternyata semua itu tak berpengaruh apa pun terhadap masa depan usahanya. Lalu, dimana letak kekeliruan selama ini?

Pertanyaan "kebingungan" dari Saring, perajin jamu tradisional itu mewakili banyak pertanyaan sejenis dari para perajin jamu tradisional yang jumlahnya mencapai ratusan. Diperkirakan tak kurang dari 120 perajin jamu sedang beroperasi di Banyumas. Di Kabupaten Cilacap dan sekitarnya bahkan tak kurang dari 523 perajin jamu tradisional yang kini mampu mempekerjakan lebih dari 3000 tenaga kerja lokal.

Banyak pengaruh eksistensi usaha jamu tradisional di tingkat lokal itu. Tak hanya mampu menciptakan lapangan kerja, mengurangi pengangguran dan kemiskinan, tetapi juga terbukti mampu menopang pendapatan daerah setempat hingga membangkitkan sektor usaha kecil yang kini justru sedang didorong pemerintah pusat dan daerah untuk tumbuh-kembang secara progresif.

Dengan adanya kasus BKO dalam jamu tradisional tak hanya mengancam eksistensi usaha kecil perajin jamu tradisional di Banyumas, tetapi juga telah berimbas kepada citra jamu tradisional di daerah lain. Sayang klarifikasi kandungan BKO secara jelas dan komprehensif belum diumumkan aparat berwenang sehingga membingungkan perajin jamu lainnya bahkan mengancam eksistensi mereka di masa datang. Di sinilah perlunya keterlibatan pemda setempat untuk pro-aktif melakukan investigasi sehingga diperoleh penjelasan yang terang tentang BKO dalam jamu, sekaligus secara simultan terus melakukan pemberdayaan potensi lokal tersebut sehingga dapat berkembang sebagaimana mestinya.

Pendidikan dan pemahaman memproduksi jamu tradisional yang aman dan sehat dengan kebijaksanaan, kesabaran dan keadilan yang visioner dari pemerintah menjadi taruhan masa depan usaha kecil jamu tradisional di masa datang

Keterlibatan Pemda

Keterlibatan pemerintah daerah di era otonomi daerah dalam memberdayakan usaha jamu tradisional merupakan keniscayaan. Di tengah kesulitan ekonomi, minimnya warga yang berusaha untuk bangkit dari keterpurukan, maraknya pengangguran dan kemiskinan (yang di Banyumas konon 43% wargnya tergolong miskinóred), eksistensi usaha jamu tradisional lokal selama ini bagi warga sekitar menjadi oase di tengah kegersangan investasi dan perkembangan usaha kecil-menengah di wilayah Banyumas khususnya.

Untuk alasan tersebut, Sartono, pakar UKM dalam Usaha Kecil dan Kemakmuran Lokal (2004), menyarankan tiga keterlibatan total Pemda dalam menentukan maju-mundurnya usaha kecil di daerah. Pertama, meningkatkan kualitas dan kuantitas kebijakan, program dan kegiatan pemberdayaan usaha kecil. Pemberdayaan tentu tak hanya sekadar berkunjung an scih secara seremonial ketika pejabat daerah meresmikan berdirinya usaha kecil seperti selama ini terjadi, tetapi secara konsisten dan berkelanjutan mendisposisikan dinas dan petugas terkait untuk benar-benar menjalan tugas, peran dan fungsinya secara maksimal.

Diakui selama ini pemda setempat melalui dinas terkait telah melakukan "pemberdayaan", tetapi belum menyentuh kepada kebutuhan dasar pemberdayaan yang dimaksud oleh perajin jamu tradisional tersebut.

Seperti diungkapkan oleh Karlan (36), perajin jamu tradional asal Cilacap, bahwa keterlibatan berupa pemberdayaan kepada usaha kecil jamu tradisional masih setengah hati. Menurutnya, Dinas dan petugas yang telah ditunjuk biasanya terkesan tak serius mencermati, menganalisis dan mengevaluasi produk jamu tradisional ketika bertugas, sehingga hasil evaluasi dan analisis mutu produk sering terlupakan. (SM,30/8). Padahal semestinya tugas "mengawasi" mutu produk jamu harus sangat cermat dengan perangkat yang canggih sekaligus keterlibatan tenaga ahli jamu yang benar-benar mumpuni .

Karena pengawasan yang terkesan sekadar langak-longok ke dapur jamu secara sporadis, maka tak heran apabila mutu produk jamu selalu saja bermasalah. Kasus pelanggaran kandungan jamu tradisional yang terus berulang-ulang nyaris terjadi setiap Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) dari Jakarta/Provinsi datang ke daerah, membuktikan bahwa peran dan fungsi pemberdayaan usaha kecil jamu tradisional selama ini masih setengah hati. Semestinya ketika hasil evaluasi dan pengawasan dari pemda telah dinyatakan "lulus", dengan bukti tak pernah ada masalah di kemudian hari; ketika diuji oleh BBPOM pun hasilnya sama. Tetapi mengapa produk yang sama konon dengan standar yang sama pula dapat menghasilkan simpulan berbeda? Di sinilah kebingungan para perajin jamu tradisional selama ini.

Kedua, memaksimalkan peran dan tugas komunikasi, koordinasi dan konsolidasi. Aneh, ketiga potensi lokal yang selama ini terbukti berjasa mengurangi pengangguran dan kemiskinan sekaligus meningkatkan PAD, justru ketika terjadi kasus semua lari dari tanggung jawab bahkan terkesan cuci tangan. Hal ini mencerminkan minimnya komunikasi, koordinasi dan konsolidasi antara pemerintah daerah melalui dinas terkait dengan pemerintah pusat dan propinsi melalui BBPOM.

Usaha jamu tradisional di Banyumas dan sekitarnya telah berjalan turun-temurun bahkan konon sudah eksis sejak zaman Jepang, tetapi mengapa selalu saja bermasalah di kemudian hari? Tentu disamping ada oknum yang mau mencari keuntungan diri dan kelompok, juga mencerminkan komunikasi dan koordinasi yang kurang maksimal diantara stakeholders yang terlibat . Padahal peran-peran komunikasi, koordinasi dan konsolidasi tersebut sangat bermanfaat bagi masa depan usaha jamu tradisional itu sendiri. Tak hanya dapat memperluas jangkauan pasar, penciptaan pasar baru dan peningkatan keuntungan baru, tetapi juga secara simultan dapat menggugah warga lain untuk berusaha mengembangkan potensi lokal demi kemajuan dan kemakmuran warga daerah itu pula.

Ketiga, fasilitasi pendanaan hingga regulasi progresif. Harus diakui bahwa jamu tradisional bisa eksis dan "dipercaya" oleh komunitas konsumen tertentu selama ini tidak terlepas dari kerja keras, motivasi dan dedikasi luar biasa dari sebagian kecil usahawan kecil lokal sendirian.

Dinas terkait terkesan sekadar menjadi penonton yang bersorak sorai ketika keuntungan usaha itu masuk ke kas daerah, tetapi ketika terjadi kasus, diam seribu bahasa seolah tak tahu-menahu bahkan dianggap sebagai urusan "pribadi". Padahal semestinya justru sebaliknya.

Usaha kecil yang memang sedang menjadi prioritas pemerintah (pusat) untuk dikembangkan, justru semestinya difasilitasi oleh pemerintah (daerah) baik berupa keringanan pinjaman bank yang selama ini sulit ditembus usaha kecil seperti jamu tradisional hingga fasilitasi regulasi yang bersifat progresif, yaitu regulasi pengembangan usaha kecil jamu tradisional agar dilindungi dan diberdayakan sebesar-besarnya demi kemakmuran rakyat.

Jika perlu, seperti terjadi di China, pemerintah setempat selalu memberikan berbagai kemudahan dalam berbagai bidang kepada usaha kecil jamu tradisional. Bahkan memasuki krisis obat-obatan modern dunia, China kini sedang mengembangkan "globalisasi produk jamu tradisionalnya" hingga memasuki pasar-pasar global di seluruh dunia.

Indonesia sudah banyak dimasuki produk jamu China sejak zaman Belanda (Sartono, 2004). Di tengah keterbatasan obat modern, WHO bahkan merekomendasikan agar bangsa-bangsa di dunia kembali ke alam termasuk dalam mengonsumsi jamu. Tentu jamu tradisional yang memenuhi standar kesehatan dunia.

Tempat

Sungguh tragis, ketika dunia sedang berjuang untuk memasyarakatkan jamu tradisional yang sehat, alamiah dan aman, justru jamu tradisional lokal kurang mendapat tempat. Padahal nenek moyang kita terbukti telah mewarisi kekayaan kesehatan yang berasal dari jamu tradisional hingga puluhan bahkan ratusan tahun lalu.

Sayang, jika potensi lokal itu pelan tetapi pasti ditinggalkan bahkan sering dicurigai sebagai produk "terlarang" karena mengandung bahan kimia obat yang tak dianjurkan. Karena itu, penegakkan hukum tetap dilakukan bagi para pelanggarnya, tetapi hendaknya tak mematikan motivasi, dedikasi dan kerja keras.

Pendidikan dan pemahaman memproduksi jamu tradisional yang aman dan sehat dengan kebijaksanaan, kesabaran dan keadilan yang visioner dari pemerintah menjadi taruhan masa depan usaha kecil jamu tradisional di masa datang. (11)

--- Tasroh, S.S, ketua Studi Pengawasan Kebijakan Publik Purwokerto, mahasiswa S2 Double Degree Beasiswa Bappenas (MIA Unibraw-Jepang).


(sumber: Suara Merdeka-wacana)

Rambu-rambu minum jamu

Rambu-Rambu Minum Jamu

Di zaman modern ini, masih banyak orang gemar minum jamu. Tapi, bagaimana cara minum jamu yang benar dan aman?

Jamu, bagi sebagian orang barangkali identik dengan rasa pahit dan aroma menyengat yang bikin mual. Padahal tak selalu demikian. Kini, seiring dengan kemajuan teknologi pengolahan jamu, tak sedikit jamu yang berasa manis dan segar. Bahkan, jika diminum dalam keadaan dingin, tak beda jauh dengan soft drink. Enak sekali.

''Bener, sedap banget,'' begitu komentar Rani, ibu muda yang kini 'ketagihan' minum jamu kunyit asam buatan pabrik. Padahal sebelumnya, ibu dua anak ini, termasuk orang yang paling ogah minum jamu, terutama jamu yang berasa getir dan pahit.

Namun, tak semua orang seperti Lilis. Banyak juga orang yang lebih suka jamu dengan cita rasa asli. Buat mereka, rasa pahit dan aroma yang menyengat, tak menjadi masalah. Adalah Ida, salah satu penyuka jamu dengan cita rasa asli ini. Wanita berusia 37 tahun ini terbiasa minum jamu sejak melahirkan anak pertama. Kala itu, seperti umumnya wanita yang baru melahirkan, ia pun mengonsumsi jamu habis bersalin lengkap. Tak cuma itu, ia pun mengikuti anjuran ibunya, untuk minum jamu kunyit asam buatan sendiri. ''Dibuat hanya dari kunyit dan asam, tanpa tambahan gula, rasanya sedap juga. Dan mungkin, karena jamu yang saya minum, tubuh saya tidak 'mekar' setelah melahirkan.'' Kegemaran minum jamu kunyit asam terus berlanjut sampai kini. Ia tak peduli, walau tangannya jadi kuning karenanya. Biasanya, ia membuat jamu ini menjelang atau saat haid. ''Haid jadi lancar dan perut tidak mulas.''

Begitulah, jamu memang telah memasyarakat di negeri kita. Banyak orang yang sangat meyakini manfaatnya. Broto Sugeng Kardono PhD, kepala Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengakui bahwa jamu memang bermanfaat bagi tubuh, terutama untuk menjaga kesehatan. Hanya saja, karena khasiatnya memiliki jangka waktu yang lama, maka jamu tidak tepat disebut sebagai obat, apalagi untuk mengobati penyakit-penyakit yang berat. ''Jamu lebih sebagai suplemen,'' kata Broto.

Karena itu, katanya, sulit bisa dipercaya bila ada produk jamu yang mengklaim bisa menyembuhkan penyakit-penyakit berat seperti kanker. Apalagi bila disebutkan bahwa jamu itu bisa menyembuhkan secara cepat. Kalau ada yang mengklaim seperti itu, doktor farmasi lulusan sebuah universitas di Amerika Serikat ini, dengan tegas mengatakan,''Itu bohong.''

Itu berarti, jamu tidak memiliki sifat seperti obat yang dapat menyembuhkan penyakit secara instan. Jadi, Anda patut mencurigai jamu yang menyatakan bisa menyembuhkan penyakit dalam waktu singkat. ''Jangan-jangan, jamu itu mengandung bahan-bahan kimia yang justru bisa membahayakan kesehatan.'' Jamu yang baik, lanjut Broto, adalah jamu yang dikemas secara modern, seperti halnya kemasan obat. Jamu jenis ini khasiatnya kurang lebih sama dengan jamu biasa. Hanya saja, jamu yang dikemas secara modern biasanya lebih terjaga kebersihannya. Kemasan yang modern itu juga membuat jamu tersebut tidak mudah terkontaminasi zat-zat lain.

Lalu, adakah efek samping yang bisa ditimbulkan oleh jamu? Broto mengatakan, selama jamu yang dikonsumsi itu diolah secara benar dan terjamin kebersihannya, maka jamu itu relatif tidak memiliki efek samping. Jadi, kalau ada jamu yang menimbulkan efek samping bagi pemakainya, bisa jadi produsen jamu itu menggunakan bahan baku yang tidak semestinya, dan tidak terpelihara kebersihannya.

Kiat memilih produk jamu
Demi kepraktisan, tak sedikit orang yang memilih jamu buatan pabrik. Di pasaran, tersedia beragam merek jamu dengan harga yang bervariasi. Mengingat beragamnya merek, kegunaan, dan kualitas jamu, tentunya Anda mesti hati-hati dalam memilih produk jamu. Berikut beberapa tips untuk Anda seputar memilih produk jamu.

  • Perhatikan kemasan jamu sebelum dikonsumsi. Pastikan, pada kemasan jamu itu tercantum registrasi dari Badan POM (Pengawas Obat dan Makanan).

  • Perhatikan pula apakah produk jamu itu diproduksi oleh pabrik atau perusahaan yang memiliki reputasi baik dan dapat dipertanggungjawabkan keberadaannya.

  • Sebelum mengonsumsi produk jamu, sebaiknya perhatikan komposisi, khasiat, masa berlaku produk, dan anjuran atau dosis pemakaian.

  • Bagaimana jika ingin membuat jamu sendiri? Boleh-boleh saja. Yang penting, bahan-bahan yang Anda gunakan haruslah bahan-bahan yang memang sudah biasa dipakai oleh masyarakat untuk membuat jamu. Anda tahu bukan, tidak semua tumbuhan aman bagi kesehatan? Ada juga tanaman yang beracun. Selain itu, dalam membuat jamu, kebersihan harus dijaga. (bur )


(sumber: Republika online, www.republika.co.id)

Senin, 17 September 2007

NAGA-WIKIPEDIA

Naga, dalam kebanyakan kebudayaan, adalah monster yang luar biasa dan terbentuk dari percampuran banyak mahkluk yang berbeda. Legenda Tiongkok tentang kelahiran naga sama seperti suku-suku dengan totem binatang yang berbeda-beda yang kemudian saling menyatu. Hasilnya adalah mahkluk campuran yang berbentuk rusa,bertubuh ular,dan bersayap burung. Akhirnya mereka menemukan mahkluk yang sama sekali berbeda dengan binatang yang ada di dunia. Dalam bahasa Tionghoa,kata dragon juga dipakai untuk menggambarkan angin topan. Naga menjadi sosok kekuatan alam yang sama dengan thunder lizard.legenda itu diilhami oleh penemuan tulang dinosaurus.mereka tidak tahu bahwa dinosaurus ini telah punah jutaan tahun yang lalu. Ini merupakan salah satu contoh mengenai pikiran manusia yang menyempurnakan monster dalam khayalan.

Naga di Asia Timur umumnya adalah mahkluk yang baik hati. Selama mahkluk itu dihormati, naga itu akan senantiasa berbuat baik. Berdasarkan beberapa kisah,orang yang suci tidak dapat mati atau menjadi roh halus. Setelah berabad-abad kemudian,rohnya menjadi naga kecil dan masuk ke dasar bumi untuk tidur. Ketika akhirnya bangun sebagai naga,ia mengoyakkan dirinya supaya terbebas dan terbang menuju surga.

Naga dalam budaya Kalimantan pada suku Dayak maupun suku Banjar merupakan simbol alam bawah. Naga digambarkan hidup di dalam air atau di dalam tanah disebut Naga Lipat Bumi. Naga atau ular naga merupakan perwujudan dari "tambun" yaitu makhluk yang hidup dalam air. Menurut budaya Kalimantan, alam semesta merupakan perwujudan "Dwitunggal Semesta" yaitu alam atas yang dikuasai "Mahatala"/"Pohotara" disimbolkan "burung enggang (burung) dan alam bawah yang dikuasai "Jata" disimbolkan naga (reptil). Alam atas bersifat panas (maskulin) sedangkan alam bawah bersifat dingin (feminim). Manusia hidup diantara keduanya. Dalam budaya Banjar, alam bawah merupakan milik "Puteri Junjung Buih" sedangkan alam atas milik "Pangeran Suryanata". Dalam arsitektur rumah Banjar, makhluk naga dan burung enggang diwujudkan dalam bentuk ukiran, tetapi sebagai budaya yang tumbuh di bawah pengaruh agama Islam yang tidak memperkenankan membuat ukiran makhluk bernyawa, maka bentuk-bentuk makhluk bernyawa tersebut disamarkan atau didistilir dalam bentuk ukiran tumbuhan.

Sumber:http://id.wikipedia.org/wiki/Naga

Sabtu, 08 September 2007

Puyer Sakit Kepala Cap Bangau




Jamu yukkk... jamuuu..

Kemasan jamu sangat menarik dan beragam.. mungkin orang akan bilang, indonesia bangetttt tp yaa memang begitu adanya. terutama dari kemasannya. saya melihat kemasan ini sangat menarik, dan terlihat sangat feminim,mungkin dari warnanya yang pink. awal saya berpikir ini adalah bedak, tapi ternyata ini adalah puyer sakit kepala. dan kemasannya sangat terasa bahwa ini adalah obat tradisional cina sekali, yaitu terlihat di logo dari obat ini, ada foto si pembuat obat.
Nama dari produk ini adalah " Each package of Welcome Powder" , nama pemilik produknya "PT.Yahi Utama" , dan perusahaan ini berada di tangerang-indonesia, dengan nomor daftar legal Reg.No.D.7811336.
lebar dan panjang kemasan ini adalah 4,5cm x 6,5 cm. dengan teknik produksi cetak offset. saya lihat jenis dari kertas ini menggunakan kertas HVS 70 gram.
Visual yang tampak dari kemasan ini adalah. burung bangaunya, bunga teratai, daun sirih, bunga melati dan bunga sakura. Dengan tipe tulisan yang terlihat di kemasan itu adalah san serif.
yang akan saya bahas disini adalah, walau obat ini adalah obat tradisional cina tetapi kemasan yang mereka tampilkan masih ada kaitan dengan budaya terutama indonesia. yuk..yukk.. mari kita kaji..

* Bunga teratai, daunnya berjumlah 8, sesuai dengan jumlah manifesti Hyang Widhi(tuhan). bunga ini menggambarkan kesucian dan keagungan. dan asal kata teratai adalah "Padmasana", yaitu sansekerta "padma, bunga teratai", "asana, sikap duduk". lalu padmasana adalah sebuah tempat untuk bersemayang dan menaruh sajian bagi umat hindu terutama umatHindu Indonesia.

* Daun sirih, tanaman obat yang sangat bermanfaat sebagai antioksidasi dan fungsida, menahan pendarahan, mematikan kuman dan sering digunakan sebagai pengobatan.

* hewan bangau, melambangkan hewan asia, dan ada di pulau jawa.

* melati, bunga ini merupakan bunga nasional, melalui keputusan presiden no.4/1993, yang mengatakan bahwa melati merupakan dan mewakili karakteristik sebuah bangsa dan negara.karena bunganya dikaitkan dengan berbagai tradisi dari banyak suku di negara ini.

* bunga sakura, sebagai simbol kehidupan serta untuk mengekspresikan ikatan antar manusia.

Kaitan sosial yang ada dapat terlihat bahwa ada kaitan antara budaya jawa dan cina dikemasan ini, yaitu berupa simbol-simbol gambar seperti bunga-bunga,hewan dan lain sebagainya. jadi, desain kemasan pada waktu dulu sudah sudah berbaur dengan kebudayaan lain tidak hanya budaya Indonesia itu sendiri.

Kertas Sigaret Subur



Kertas Sigaret Subur

Dimensi : Panjang/Tinggi 5 cm
Lebar 5,5 cm
Tebal 2 mm
No. Daftar : 007977
Produsen : Saerah-Sae Tur Mirah

Merupakan produk pengemas tembakau, yakni kertas sigaret.
Sederhana karena hanya hanya menggunakan kertas minyak sebagai materialnya serta menggunakan teknik cetak saring/sablon dengan warna merah. Dari segi desain, dapat dilihat bahwa produk ini menggunakan gambar seorang pejuang Indonesia bertopi lancip dengan frame berbentuk simetris seperti lingkaran dan persegi.
Tipografinya pun secara keseluruhan menggunakan jenis font Sans-Serif dengan ketebalan berbeda-beda, untuk nama produk huruf yang digunakan adalah sans-serif bold dan tulisan yang lain menggunakan sans-serif biasa.


Penafsiran (Ekspresionistik)

Packaging ini unik karena meskipun tampilannya sederhana, warna kuning pada kemasan ini sangat eye-catching sehingga mudah untuk dikenali.


Kaitan Sosial (Instrumentalistik)
Kata ”Subur” sebagai nama produk ini secara harafiah berarti ”menghasilkan banyak”, mungkin si produsen menamakan produk ini demikian karena memiliki tujuan agar penghasilannya subur juga. Selain itu, penamaan yang demikian juga lebih memudahkan produk ini untuk dikenali masyarakat.



Teh Wangi Narayana Ud Ramayana


TEH WANGI RAMAYANA

UD. NARAYANA

Katagori : Kemasan

Produk : Pangan, Teh wangi

Legalitas : no:244257

DEPKES. RI. 410/13.01/93

Dimensi :

Teknik Cetak : OFFSET

Material : Kertas Buram

Visual : Wayang Ramayana (kiri)

Wayang Narayana/Kresna (kanan)

Candi (Hindu)

Ornamen sulur Jawa dan hati (Frame)

Tipografi : Sans-Serif

Konteks

1. Budaya yang mempengaruhi

  • Hindu

Kresna dan Ramayana merupakan tokoh dari cerita agama Hindu yang muncul di India. Kedua tokoh tersebut telah melalui alkuturasi dengan budaya Jawa sehingga muncul dalam wajah yang berbeda yakni dalam wayang.

  • Barat

Penggunaan ornamen hati seperti itu merupakan ornamen yang berasal dari budaya barat.

2. Ekspresionistik

Dilihat dari teknik cetak dan kemasan yang digunakan produk ini, sudah bisa dipastikan teh ini murah. Namun bukan bearti murah kualitasnya buruk. Dilihat dari produsen yang mengeluarkan produk ini yaitu Ud. Ramayana (perusahan kecil), daun teh yang dihasilkan mungkin masih menggunakan cara-cara tradisional. Bisa jadi rasanya lebih natural karena belum menggunakan mesin.

3. Instrumentalistik

Narayana itu adalah nama lain dari Kresna, yaitu sebutan yang merujuk kepada perwujudan dewa Wisnu yang berlengan empat di Waikuntha.

Kisah Ramayana dan Kresna sudah terkenal di kalangan masyarakat Jawa sejak dahulu, terutama yang tinggal di daerah pedesaan. Kisah ini diturunkan turun temurun dan dilestarikan melalui hiburan rakyat pewayangan. Kedua tokoh yang sakti mandraguna ini pastinya sering diceritakan kepada anak cucu mereka biar bisa meneladani kedua tokoh ini, yang antara lain keberanian, rendah hati, bijaksana, setia dan jujur.

Kertas Sigaret cap Mesin Rajang





KERTAS SIGARET MESIN RAJANG
KERTAS SIGARET ISTIMEWA


Kemasan, kertas rokok
Dimensi    : Panjang/Tinggi 7 cm
                     Lebar 11,4 cm
No. Daftar : 95333

Merupakan produk yang biasanya digunakan untuk mengemas tembakau menjadi sigaret atau rokok.
Packaging menggunakan kertas kopi cokelat dengan teknik produksi cetak saring (sablon), dan juga menggunakan warna spot merah pada keseluruhan tampilannya.

Analisis Ekspresionistik

Mengapa dinamakan Cap Mesin Rajang ?
Karena nama ini lebih mudah diingat oleh konsumennya. Mungkin karena mesin rajang adalah alat utama dalam mengolah tembakau. Dengan alat rajang, tembakau diolah menjadi potongan kecil-kecil. Setelah itu, tembakau dipilin dengan menggunakan kertas sigaret untuk kemudian dinikmati sebagai rokok.

Analisis Instrumentalistik

Produk ini dikemas dengan tampilan yang sederhana serta menggunakan material yang tidak mahal. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa produk ini memang ditujukan untuk masyarakat non-urban/pedesaan.

Obat Sakit Kepala cap Pesawat Jet



Obat Sakit Kepala cap Pesawat Jet

Penafsiran (Ekspresionistik)

Pesawat Terbang
Produk ini menggunakan gambar pesawat terbang komersial, mungkin karena alat transportasi ini masih dianggap istimewa, tidak semua orang dapat mengunakan jasa transportasi ini. Penggunaan nama "Jet" mungkin dikarenakan orang-orang pada zaman itu belum mengetahui perbedaan antara pesawat komersial dengan pesawat jet.

Warna dominan Hijau
Memberi efek bahwa profuk ini memberikan ketenangan setelah menggunakannya.

Ornamen :
1)  Termometer
     Menegaskan bahwa produk ini merupakan obat-obatan.
2)  Bunga dan Sulur
     Hanya sebagai penghias belaka.


Kaitan Sosial (Instrumentalistik)

Unsur penggabungan budaya dapat dilihat dari penggabungan ornamen bunga dan sulur digabungkan dengan gambar pesawat.
Warna Hijau menggambarkan bahwa produk ini merupakan obat yang komposisinya terbuat dari bahan herbal.


Puyer Sakit Kepala Cap Macan





Puyer Sakit Kepala Cap Macan

Penafsiran (Ekspresionistik)

Matahari pada 4 sisi
Seakan produsen ingin menggambarkan dengan matahari, produknya akan berjaya.

Macan yang sedang melompat
Dikaitkan dengan keampuhan obat ini dalam menghadapi sakit kepala.
Dalam budaya Cina, macan termasuk salah satu dari 12 shio. Dalam budaya Indonesia. macan dikenal sebagai salah satu hewan yang memiliki banyak mitos.

Bunga dan Daun
Menunjukkan bahwa obat ini terbuat dari bahan herbal.

Aksara cina
Seakan ingin memberi tahu bahwa produk ini berasal dari Cina yang notabene terkenal akan obat-obatannya.


Kaitan Sosial (Instrumentalistik)

Gambar Macan dapat dikatakan sebagai akulturasi budaya, Cina dan Indonesia mengganggap bahwa macan adalah hewan sakral.

Puder Kresno



KRESNO
PUDER PEMBASMI KUTU


Penafsiran (Ekspresionistik)

COVER DEPAN
Obat ini adalah obat pembasmi kutu.
Menggunakan gambar wayang dengan background merah berbentuk kontur seperti sarang lebah.
Bingkai-frame dengan ornament ciri khas Jawa.
Penggunaan gambar wayang yang berkesan seram dan melotot secara tidak langsung mengatakan bahwa obat ini sangat ampuh dan manjur menakutkan serta membasmi kutu.
Warna background merah mewakili keberanian, ketegasan dan kemampuannya membunuh serta membasmi dengan tuntas segala jenis kutu pengganggu.

COVER BELAKANG
Menggunakan ornament yang berbeda dengan ornament di cover depan. Penggunaan gambar-gambar kecil dalam lingkaran memberikan informasi yang sangat jelas akan jenis-jenis kutu yang akan dibasmi. Tipografi aturan pakainya juga sangat jelas dan informative.


Kaitan Sosial (Instrumentalistik)

Desain yang dibuat dengan tokoh wayang ini digunakan karena sudah dikenal oleh masyarakat umum.
Kemasan ini mencerminkan kebudayaan Jawa yang kuat karena penggunaan wayang Kresna sebagai visual utamanya.

Teh Wangi Cap Pelangi


TEH PELANGI
TONG TJI TEGAL


DepKes RI MD 341211005017
Teknik Cetak : Cetak saring, warna merah, biru, dan hitam.
Dimensi        :  Lebar               3,3 cm
                       Panjang/tinggi  4,6 cm
                       Tebal               1,3 cm

Penafsiran (Ekspresionistik)

Warna merah biru. Keduanya merupakan warna yang sama kuat satu sama lain jadi desain teh ini terlihat dominan.
Gambar pemandangan dan pelangi serta pictogram matahari bersinar membuat konsumen semakin ingat akan produk teh pelangi tersebut.
Penggunaan tipografi sangat baik dan memiliki kerterbacaan yang jelas. Teh pelangi ini akan mudah dicari dan diingat baik untuk orang tua hingga anak-anak karena kuatnya warna desain pada kemasan ini.


Kaitan Sosial

Kemasan ini diduga memiliki unsur budaya jepang karena kaitannya dengan gambar matahari terbit.
Unsur budaya Indonesia tetap terlihat pada kemasan yang menggambarkan suasana ketenangan alam yang merupakan kebanggaan Indonesia.