Minggu, 02 Desember 2007

Dalang dan Wayang


Wayang yang berarti bayang-bayang ini merupakan hasil budaya yang sangat unik. Wayang dimiliki hamper di setiap Negara, hanya wujud fisik dan cara memainkannya yang agak berbeda.

Wayang Beber dari kanvas
Wayang Klitik dari kayu gepeng.
Wayang Kulit dari kulit kerbau yang pembuatannya diukir dengan martil kayu.
Wayang Golek berasal dari Indonesia asli tanpa terpengaruh budaya Negara lain.
Wayang Brayut, wayang yang memiliki tema “Banyak anak banyak rejeki”
Sebuah tokoh wayang Barata Guru yang dianggap sebagai Tuhan di India, dianut oleh agama Hindu dan Buddha. Barata Guru tersebut berdiri di atas hewan sapi. Oleh karena itu hewan sapi dianggap sebagai hewan suci yang tidak boleh dimusnahkan.

Blencong adalah alat penerangan(sebelum adanya lampu) yang berbentuk burung, terbuat dari kuningan dengan bahan bakar minyak kelapa.

Terdapat 5 tokoh hebat dalam perwayangan:
Bima, Arjuna, Yudistira, Nakula, Sadewa.
Bima merupakan anak yang dibuang lalu ia berkelana kemudian dijaga oleh Dewi Durga, sepanjang hidupnya ia terus mencari ilmu kemudian suatu saat ia bertemu dengan seorang wanita yang akhirnya menjadi istrinya yaitu Dewi Arimbi. Bima memliki kekuatan yang luar biasa dan memiliki keampuhan yang sangat tinggi bahkan kukunya sekali tusuk dapat membuat raksasa runtuh. Selama perjalanan Bima mencari ilmu ia menyeberangi samudera. Di samudera ia bertemu dengan seekor naga, ia berkelahi dengan naga tersebut sehingga akhirnya naga tersebut menjadi satu dengan kekuatan Bima, dengan tubuh Bima.

Bima memiliki anak yang bernama Gatot Kaca. Seluruh senjata sakti kayangan dimasukkan semua dalam sebuah pentungan besar. Pentungan besar tersebut menjadi satu dengan Gatot Kaca sehingga Gatot Kaca memiliki kekuatan yang luar biasa hebat.

Seorang dalang yang hendak mengadakan pergelaran wayang harus berpuasa terlebih dahulu. Pada saat pementasan wayang, diletakkan sesajen, hasil-hasil bumi dan juga penangkal hujan dan cuaca buruk lainnya. Acara persiapan wayang tersebut yang dilakukan oleh dalang disebut Ruwetan. Acara wayang itu sendiri berlangsung dari jam 8 malam hingga jam 4 pagi.

Analisis Desain Klanceng

Analisis desain kemasan Klanceng: Jamu Klanceng ini merupakan produk Indonesia yang diproduksi di kota Kudus. Adapun kota kudus merupakan kota kretek karena industri rokoknya yang besar dan terkenal. Penggunaan desain pada kemasan Jamu klanceng ini memiliki visual dan penempatan ornament seperti obat tradisional Cina. Penempatan ornament yang memusat di tengah(lebah klanceng) serta diberi hiasan sama (simetris) pada kanan kirinya yaitu naga jawa. Pemberian frame/bingkai orange bertuliskan Klanceng merupakan peniruan gaya desain cina yang mana pada umumnya desain cina terdapat ukiran khas Cina yang berwarna merah atau emas.


Petani adalah produsen yang melibatkan suatu industri yang berkaitan dengan alam, seorang petani memilih benih, memupuk , memelihara, dan memanen. Seorang petani harus mengolah lahan dan sumber daya alam dengan maksimal sehingga menghasilkan hasil yang baik, ia harus mempertimbangkan dan menghitung musim hujan dan kemarau. Pertanian bersangkutan dengan pangan, makanan tahunan, industri, menimbulkan tenaga kerja, melibatkan rakyat banyak, kesejahteraan masyarakat,bahkan ikut berperan serta dalam mengatasi Global Warming- meredap air pada musim hujan dan melepas air pada musim kemarau, pohon dan tanaman juga sangat baik sebagai paru-paru dunia karena melepaskan O2.


Petani yang menunggu hasil atau masa panen umumnya mengisi waktu kosong/tenggang mereka dengan beberapa pekerjaan sampingan dengan memanfaatkan urbanisasi kota misalnya menjadi tukang becak, kuli bangunan, tukang gali, dan sebagainya.

Adapun persamaan profesi yang dipilih petani ataupuntukang becak adalah dalam hal penggunaan tenaga fisik. Mereka bekerja mengandalkan kekuatan fisik mereka.

Jamu klanceng merupakan jamu masyarakat yang harganya dapat terjangkau oleh smua masyarakat ini dapat dikonsumsi sebagai pembangkit tenaga untuk orang yang lelah bekerja, letih lesu dan lain sebagainya. Oleh karena itulah desain kemasan klanceng menggunakan visual petani, tukang becak dan dalang.

Sabtu, 17 November 2007

Batavia Waterlooplein


WATERLOOPLEIN
“Berkendara Kuda di Waterlooplein”
Berkuda di Waterlooplein (sekarang Lapangan Banteng), si kota Batavia abad 19. Saat ini lapangan ini disebut lapangan Banteng. Di bagian belakang adalah istana yang dibangun oleh Gubenur Jendral Herman Daendels (1762-1818), sekarang dikenal sebagai Istana Putih. Di bagian depan istana adalah monumen waterloo, seekor singa di atas pilar yang diberi sebutan “pudel” oleh orang Belanda.
Litografi 33x49 cm Bahasa Perancis.
Perpustakaan Nasional Indonesia, koleksi Varia. No. inv 0436-07

Ketika melihat Lukisan ini, lalu saya membaca keterangannya, ternyata ini lapangan banteng zamam dulu! Mungkin kalau ada waktu kesana saya akan fotoin Lapangan Banteng yang sekarang. Kalau yang sudah pernah ke Lapngan Banteng, bayangin dimana gereja Katedral, Kantor Pos. Kalau ga kebayang ya uda (apaan sih!).

Nippon



PROPAGANDA ASIA

Pasti semua pernah liat poster ini! Poster ini kan yang kita sering lihat dibuku pelajaran sejarah, pas bagian penjajahan jepang di Indonesia. Saya suka sekali foto di bawah poster ini! Hoho.. Saya tidak menyangka bisa melihat dan berfoto dibawah poster yang sensasional dan langka ini. Dahulu saya saat masih SD, SMP, SMA, saya suka diceritakan oleh guru saya, katanya dulu saat penjajahan Jepang yang lebih sadis dari penjajahan Belanda itu sangat susah, banyak yang pakai karung goni untuk baju, padahal itu katanya gatal dan banyak kutunya dan untuk lebih makan susah, yah begitulah, penjajahan sudah berlalu, kita juga sudah merdeka, namun kenapa bangsa kita malah semakin hidup dalam kemunduran?

Erasmus Huis!



Ayo ke Erasmus Huis neng Geulis! ^^

Yup, itulah peta Dimana kedutaan Belanda, tempat pameran Erasmus HUis diadakan. Maaf kalau petanya sederhana dan mungkin salah menurut cara geografi. Tapi yang penting adalah Anda bisa mengetahui lokasinya. Hehehe.. (maklum saya anak desain yang dulu SMA kurang bisa geografi, anak IPA soalnya).

Seperti biasa, dimana-mana dengan alasan keamanan, kedutaan tidak ada tempat parkirnya. Kemarin, 14 November saya kesana dengan motor bersama 2 anggota Kucing Garong (thanks ya!) parkir di pinggir jalan dekat pohonpohon. Motornya dinaikan ke atas trotoar. Kalau dengan Mobil juga sama bisa diparkirkan di belakang kedutaan.

Kita masuk dari pintu samping, lalu diperiksa dan discan2, setelah itu langsung masuk ke perpustakaan, dimana pameran dilangsungkan. Tidak banyak memang yang dipamerkan, tapi ada yang menarik. Itu saya uraikan lagi diposting bawah. Lalu kita dikasih buku oleh satpamnya, Buku pameran Erasmus Huis. (kalau mau pinjam, call me!). Tapi lebih baik kita datang kesana. Banyak informasi yang diungkap dalam buku itu. Menarik!

Mungkin kita seharusnya malu dan berkaca. Sesuatu yang merupakan sejarah dari bangsa kita malah dimiliki oleh orang lain. Saya sampai kaget pada saat membaca kata pengantar dari buku pameran Erasmus Huis ini, “Setelah kemerdekaan Indonesia, Koleksi Varia ini dipindahkan ke Perpustakaan Nasional, di mana keberadaannya terabaikan”. Duh, rasanya langsung menohok hati. Apakah bangsa kita mau terus-terusan begini... Tidak bisa menghargai sesuatu sejarah, seni atau pun karya orang lain?

Sabtu, 10 November 2007

Kumpul buat pameran

Rabu yang mendung, 7 November 2007
3 djempol and friends kumpul untuk membicarakan pameran.
Dari pembicaraan ini kami sudah mendapatkan hasil mufakat tentang bagaimana tema pameran kami.. Hehehe tentunya tidak bisa dibeberkan disini biar menjadi kejutan.. tapi ukurannya akan sekitar tinggi: 1800 mm dengan lebar 700 mm. Wacana akan diletakkan dari permukaan tanah 650 mm sampai ketinggian 1650 mm agar mudah dibaca. kamu sudah membagi kerja tugas masing-masing agar pameran ini bisa terwujud dan jadi nyata dalam waktu yang cukup padat ini. hehehe.. doakan kami ya! moga2 hasilnyajuga 3 djempol!

Minggu, 28 Oktober 2007

Dari Manakah Naga Jawa Itu?



"Ular naga panjangnya bukan kepalang/ Menjalar-jalar selalu kian kemari/Umpan yang lezat itulah yang dicari/Ini dianya yang terbelaaaa....kang!"

Lagu ini mungkin sering kita nyanyikan ketika kita masih kecil sambil bermain dengan riang gembira dengan teman-teman.. namun, siapakah ular naga ini?

Pada kemasan Klanceng bagian tampak depan bisa kita lihat ada 2 naga di sisi kanan dan kiri ikut meramaikan desain Jamu Klaceng. Setelah saya teliti ternyata motif, bentuk dan rupanya tersebut adalah rupa ular naga Jawa yang serupa dengan naga yang terdapat pada gamelan gong Jawa. Motif hias ular naga pada gong Jawa tersebut posisisnya selalu bertolak belakang , bagian ekornya selalu ada di tengah, hal tersebut merupakan simbol dunia bawah yang turun dari dunia atas. Hal ini menunjukkan bahwa Ular Naga ini adalah sesuatu yang berhubungan dengan simbol dunia-dunia spiritual masyarakat jawa dan dihormati. Orang Jawa percaya bahwa 8 penjuru mata angin di jaga oleh naga. Naga mempunyai 8 keistimewaan , menyembur, menggigit, melilit, kuat, bisa hidup di air dan darat , meronta, bertukar kulit, bisa hidup dari minyak yang disimpan di ujung ekornya.

Ular Naga ini bagi petani jawa adalah makhuk yang dianggap sakral, Ular Naga ini adalah jelmaan Dewi Sri yang dalam kehidupan sehari-hari menjelma dalam bentuk ular sawah. Hal ini tertulis dalam serat babad ila-ila disebutkan : Dewi Sri dan Raden Sadhana adalah kakak beradik. Karena mereka tidak mau tinggal di kraton, maka oleh ayahandanya Prabu Purwacarita mereka dikutuk, Dewi Sri menjadi ular sawah dan Raden Sadhana menjadi burung Sriti. Kemudian mereka pergi entah kemana. Perjalanan dewi Sri atau ular sawah lebih banyak halangan daripada raden Sadhana sebagai burung Sriti . Akhirnya Ular sawah sampai di negeri wirata, berhenti sebentar didusun Wasutira lalu tidur melingkar ditengah-tengah padi. Didusun Wasutira inilah Ular sawah diletakkan di Petanen. Ular sawah itu nantinya akan menjaga bayi yang dikandung oleh Ken Sanggi atau istri dari Kyai Brikhu, sebab bayi yang dikandung itu adalah titisan Dewi Tiksnawati. Apabila ular itu mati , maka bayi itu juga akan mati. Demikianlah pada malam hari Ken Sanggi melahirkan anak perempuan dengan selamat. Maka Kyai Brikhu dalam memelihara ular sawah itu sangat berhati-hati jangan sampai mati. Sewaktu Kyai Brikhu tertidur , ular sawah itu seakan-akan berkata agar jangan diberi makan katak melainkan sesaji berupa sirih ayu, bunga serta lampu yang menyala terus. Setelah kyai Brikhu terbangun dari tidur langsung menyiapkan sesaji seperti apa yang diminta ular sawa tadi. Dewi Tiksnawati yang menitis pada tubuh bayi itu membuat huru hara di SBY, tempat kediaman dewa-dewa karena Dewi Tiksnawati tanpa memberi tahu atau ijin dari Sang Hyang Jagadnata. Sang Hyang Jagadnata menjadi murka dan mengutus para dewa untuk memberi bancana pada sang Bayi. Akan tetapi gagal karena kena pengaruh tolak bala yang diberi kan Kyai Brikhu dari Ular sawa tadi. Setelah beberapa kali gagal tahulah Sang Hyang Jagadnata bahwa semua itu berasal dari Dewi Sri. Kemudian Sang Hyang Jagadnata atau Batara Guru mengutus para bidadari untuk memanggil Dewi Sri. Dia akan dijadikan bidadari untuk melengkapi bidadari yang ada dikhayangan. permintaan Sang Hyang Jagadnata diterima oleh Dewi Sri, akan tetapi ia mohon agar Raden Sadhana yang dikutuk menjadi burung Sriti agar dapat diruwat menjadi manusia kembali. Ternyata Raden Sadhana telah diruwat menjadi manusia oleh Bagawan Brahmana Marhaesi putra dari Sang Hyang Brahma. Kemudian Raden Sadhana dikawinkan dengan putri yang bernama Dewi Laksmitawahni. Apabila telah berputra, Raden Sadhana akan diangkat menjadi dewa. Kemudian ular sawa diruwat menjadi Dewi Sri kembali oleh para bidadari. Sepeninggal para bidadari, Kyai Brikhu ketika tengah membersihkan petanen terkejut melihat ular sawa lenyap. Yang ada hanya seorang wanita cantik. Kyai Brikhu akhirnya tau bahwa Dewi Sri adalah putri dari Prabu Mahapunggung dinegeri Purwacarita. Sebelum Dewi Sri meninggalkan Kyai Brikhu dan keluarganya dia berpesan agar memberikan sesajen didepan petanen atau kamar tengah agar sandang pangannya tercukupi.setelah itu Dewi Sri moksa dan juga Raden Sadhana kembali ke khayangan.
Oleh karena itu pada setiap pada sethong tengah pada rumah Jawa selalu diberi gambar ular naga sebagai lambang kewanitaan, yaitu Dewi Sri yang memberikan kemakmuran. Para petani apabila ada ular sawah masuk kedalam rumah dijadikan pertanda bahwa sawahnya akan diberikan hasil yang baik atau banyak rejeki. Karenanya mereka tidak mau mengganggu ular sawah dan memberi sesaji.

Namun bagi saya hal ini bisa dibuktikan secara logika. Ular sawah itu menolong Petani dalam menyuburkan dan menjaga sawahnya dari hama tikus yang sangat merugikan. Semakin banyak ular sawah, maka hama tikus bisa dipastikan tidak bisa berkembang biak, sehingga panen bisa berhasil. Oleh karena itu ular naga ini bisa dianggap menjadi sesuatu yang sakral dan dianggap memberikan rejeki. Hal ini sesuai dengan hukum rantai makanan yang berkembang di alam. Oleh karenanya akan lebih baik kalau kita tidak menganggu keseimbangan dari rantai makanan. Bila salah satu rantai terputus maka keseimbangan alam akan terganggu dan kita manusia yang menganggunya akan merasakan efeknya cepat atau lambat.

Dari sini bisa kita simpulkan bahwa ular naga jawa ini tidak memiliki kaitan budaya dengan kebudayaan China. Legenda ular naga ini lahir dan hidup turun temurun dari kehidupan masyarakat Jawa zaman dahulu yang tentunya sebagian besar berprofesi sebagai petani untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga. “Makin banyak Anak makin banyak rejeki” prinsip orang Jawa ini juga mendukung profesi mereka yang rata-rata berladang dan bertani. Dengan semakin banyaknya anak mereka, maka semakin banyak yang bisa membantu mengerjakan dan menjaga sawah mereka sehingga hasil panen pun bisa maksimal.


Referensi:
Mitologi Ular Menurut Kepercayaan Jawa
            http://warta.unair.ac.id/artikel/index.php?id=1
Dewi Sri-Dewi Kesuburan
            http://www.soulcast.com/post/show/5212/Dewi-SRI---dewi-kesuburan







Template Klanceng

Senin, 22 Oktober 2007

Apa kata Fengshui....

Menurut Fengshui, bentuk itu memiliki elemennya sendiri.
Contohnya:
air : memiliki bentuk bergelombang
kayu : memiliki bentuk persegi panjang
api : memiliki bentuk runcing seprti segitiga
tanah : memiliki bentuk bujur sangkar
logam : memiliki bentuk bulat

Naga merupakan shio yang berelemen air, mungkin itu sebabnya tubuhnya digambarkan bergelombang.

Begitupula dengan warna, warna memiliki unsur sendiri
air : biru hitam dan abu-abu
api : merah, pink, orange, ungu
kayu : hijau, biru muda/corak kayu
tanah : krem, kuning coklat
logam : putih, emas, dan perak


sumber: artikel kupas fengshui in logo
majalah concept vol 03 edisi 17 2007

Minggu, 21 Oktober 2007

Rupa Si Naga Jawa


Gong
Ternyata penggunaan/penenpatan naga Jawa juga dapat ditemui dalam alat musik Jawa. Naga yang saya temukan ini mirip dengan naga yang ada pada kemasan Klanceng. Sama-sama bermahkota,tubuhnya bergelombang, tak memiliki kaki dan tangan seperti naga China. Namun, memang tubuhnya memanjang secara horizontal, tidak vertikal seperti pada kemasan Klanceng.

Typeface Klanceng

Typeface Klanceng adalah jenis huruf "sambung" atau huruf "script" atau bisa juga disebut sebagai "tulisan tangan" (handwriting) karena menyerupai tulisan tangan orang. Huruf Script biasanya menyeerupai goresan tangan yang dikerjakan dengan pena, kuas atau pensil tajam dan biasanya miring ke kanan.
Huruf script ini biasanya menimbulkan sifat pribadi, akrab, luwes serta terkesan klasik.

Ada berbagai macam huruf script dan handwriting, mulai dari yang kuno hingga modern, dari yang agak lurus hingga miring dan amat "melingkar-lingkar". Umumnya jenis-jenis huruf script dan dekoratif digunakan untuk hiasan atau dekorasi, bukan untuk teks maupun headline teks. Karena derajat kompleksitasnya lebih tinggi, maka tidak cocok untuk teks karena akan menyulitkan pembacaan.

Bila Ditinjau dari segi tipografi:

Ekspresionistik

Dengan desain yang ramai dan padat seperti itu, dengan menggunakan huruf sambung, logotype lebih kelihatan hidup, estetis dan tidak kalah dengan desainnya. Sehingga orang bisa melihat huruf Klanceng itu sebagai merk dari jamu ini. Selain itu penempatan logotype yang berada di central kemasan membuat seperti logotype ini menjadi pusat dari desainnya.

Instrumentalistik

Sesuai dengan karakter huruf scriptyang luwes, akrab serta terkesan klasik. Logotype ini memberikan kedekatan dengan konsumennya. Padahal yang kita tahu produk ini adalah obat.
Huruf script yang meliuk-liuk ini juga terasa sisi feminimnya. Hal ini dilakukan karena "klanceng" sendiri adalah nama lebah (Lebah adalah hewan yang rajin bekerja dan dipimpin oleh seekor ratu lebah yang biasanya ukurannya lebih besar. Lebah-lebah pekerja sangat menghormati ratunya karena ratunya itu juga bertindak sebagai ibu mereka, oleh karena itu sisi feminimnya lebih terasa).

Rabu, 17 Oktober 2007

Nama Lain Si Klanceng

Menurut sumber yang bisa dipercaya,
Yaitu pembantu toko saya yang setia, sekarang umurnya 48 tahun dan sudah tinggal seumur hidupnya di desa Banjarharjo.
Namanya "Sukim". Saya memanggilnya Mang Sukim.
Karena dia cukup mengerti tentang produk2 lama, akhirnya kita hunting bareng cari kemasan di pasar di desa sebelah pake motor, cukup banyak produk2 yang kami dapat.
Dan dia rekomendasi beberapa produk2 keluaran lama, salah satunya jamu klanceng, dia menyebut jamu Klanceng sebagai jamu becak. Jamu ini lebih dikenal dengan nama jamu becak daripada jamu klanceng.
Padahal gambar becak yang dimaksud bedara di belakang kemasan , bukan sebagai image utama seperti image tawon klanceng yang dijadikan sebagai image dari produk.

Libur yg tlah usai...

Stelah libur yg cukup menghibur... akhirny saat prkuliahan kmbali datang...

Btw, kami 3Djempol pengen ngucapin Minal Aidin, Met Lebaran bwt saudara2 skalian yg ngerayaain...
"Mohon Maap Lahir Bathin" yah...

Jumat, 05 Oktober 2007

nyari data di mande-mande

Tadi abis dari perpus FT, di lantai 8, rencana mo konfirmasi, tapi gara-gara pak Asep suibuk tenen akhirnya cari-cari buku dulu. Eh, gak taunya dapet buku yang berkaitan dengan tugas TD qiu!
Soal akulturasi budaya yang ada di Batavia gitu.

Belum dibaca semua sih, nti di ringkas dulu.
judulnya "PERSEKUTUAN ANEH PEMUKIM CINA,WANITA PERANAKAN DAN BELANDA DI BATAVIA VOC" oleh LEONNARD BLUESSE


Sambil menyelam minum air!untung gak nyampe kembung...

Rabu, 26 September 2007

Kumpul Djempol...

Hri ni baru sempet kumpul2 niy, trus bagi2 tugas gt...
Bis tu k warnet bwt nge-back up blog 'n skalian ngecek posting baru, nyambi nyari data bwt tgs lain... T_T
Skali dayung 2-3 pulau terlampaui, tapi pulaunya ke jauhan jadi lama nyampeny... T_T
gpp lah, toh ujung2nya nyampe koq...
hehehe... ga jelas...

Sabtu, 22 September 2007

Oh...Klanceng

DIBANDING harga madu lebah lain, madu lebah klanceng/lanceng (Apis florea) harganya jauh lebih mahal. Namun demikian, madu hasil produksi lebah yang tidak bersengat itu tetap diburu para penggemarnya.

Hal itu terbukti antara lain madu yang dihasilkan peternak di Dukuh Andong Utara, Desa Ngembal, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan. Kawasan ini berada di bagian bawah wilayah Nongkojajar, sebuah dataran tinggi yang sejuk. Di tempat yang cukup tinggi itu terdapat 23 peternak klanceng dengan jumlah koloni sekitar 1.200 buah.

Setiap koloni klanceng menghasilkan 1–2 kilogram madu per tahun, atau 2-3 botol ukuran 630 mililiter (ml). Tiap botolnya dijual peternak seharga Rp 30.000 dan di toko-toko umum atau koperasi harganya meningkat menjadi paling murah Rp 50.000 per botol.

Padahal, madu hasil lebah lokal (Apis cerana) atau lebah impor (Apis mellifera) untuk ukuran botol yang sama paling tinggi harganya hanya sekitar Rp 20.000 per botol. Ini pun sudah dalam kemasan yang baik dan dipajang di toko-toko atau pasar swalayan.

Menurut informasi pihak Dinas Kehutanan maupun Perhutani, di Jawa Timur saat ini sudah jarang ditemukan lebah hutan (Apis dorsata) karena hutan-hutan yang memenuhi syarat untuk kehidupannya sudah nyaris habis. Hanya sebagian daerah di Banyuwangi, Jember, dan Ponorogo bagian selatan masih ditemukan beberapa koloni lebah ini, namun madunya jarang bisa diambil penduduk.

Karena itu, monitoring dan evaluasi perlebahan yang dilakukan Departemen Kehutanan tahun 2002 hanya meliputi lebah lokal dan lebah impor.

Bahwa lebah klanceng juga tidak direkam kegiatannya oleh Departemen Kehutanan itu mungkin tak diketahui. Sebab lebah klanceng dikenal luas tidak bisa diternakkan, dan jumlahnya pun sangat kecil.

Oleh karena itu, lebah dengan ukuran fisik terkecil ini bisa dikatakan termasuk dalam kategori setengah langka, meskipun di daerah Tutur jumlahnya cukup banyak. Itu pun atas inisiatif dan jerih payah penduduk sendiri tanpa arahan atau binaan dari pemerintah.

Beberapa peternak yang tergabung dalam Kelompok Tani Lebah Madu "Klanceng Medun Jaya" di Kecamatan Tutur itu menyatakan, memang belum pernah dibina instansi mana pun juga, meskipun pada papan namanya tercantum sebagai binaan Dinas Perkebunan dan Universitas Airlangga Surabaya. "Bantuan dana atau penyuluhan belum pernah ada," ujar seorang peternak.
PENGAKUAN beberapa peternak tersebut juga dibenarkan Ketua Kelompoknya, Tarsai (45), yang memiliki 50 kotak klanceng. Peternak Kamid yang memiliki 60 koloni pun mengaku, selama ini kegiatan peternakan klanceng di situ bisa berjalan berkat adanya kerja sama dan tukar pengalaman di antara anggota kelompoknya. "Pak Yunus yang beberapa kali kemari dan memberi nasihat," ujar Tarsai.

Yang dimaksud dengan Pak Yunus adalah Ir Mochammad Junus MS, dosen Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya (Unibraw) Malang yang menekuni perlebahan. Lulusan S-2 bidang Ilmu Ternak IPB Bogor ini juga sebagai konseptor masterplan perlebahan Jawa Timur bersama Departemen Kehutanan Jakarta.
"Saya hanya melakukan pengamatan dan memberikan beberapa nasihat yang bisa digunakan para peternak," kata Mochammad Junus ketika dihubungi. Ditambahkan, pihaknya juga pernah diminta bantuannya oleh TVRI Surabaya untuk meliput peternakan lebah klanceng tersebut.
Sesuai penuturan beberapa peternak, Junus membenarkan, penduduk mencari bibit klanceng di hutan-hutan sekitar tempat tinggalnya. Beberapa peternak juga sudah mahir memperbanyak koloni dengan memecah koloni yang sudah besar.
"Mereka tahu persis larva calon ratunya, bagaimana bentuk kotak yang digemari klanceng, dan bagaimana menaruh kotak itu di tempat yang strategis," ujarnya.
Pengamatan di lokasi peternakan itu menunjukkan kotak-kotak klanceng yang dibuat dari potongan bambu, potongan kayu yang dilubangi, atau akar pohon yang besar dan berlubang. Semuanya dibuat sedemikian rupa sehingga mirip dengan lubang-lubang alamiah kayu/bambu di hutan yang disukai lebah klanceng.

Untuk pengambilan madunya, peternak masih mengalami kesulitan dan belum menemukan cara yang praktis serta higienis. Kebiasaan peternak memilih sisir yang berisi madu lalu dikeluarkan dengan cara memeras. Dengan demikian, sebagian larva ada yang mati dan madu masih tercampur sedikit malam maupun tepung sari sehingga terlihat kurang bersih.
Menurut pengamatan Junus, lebah klanceng lebih banyak menggunakan pepohonan sebagai sumber pakannya (69,2 persen). Sedangkan bagi lebah bersengat (cerana, mellifera, dorsata), pepohonan hanya merupakan 37,8 persen sumber pakannya.

Jika lebah bersengat untuk membela diri menggunakan sengatnya, klanceng hanya menggunakan cairan perekat (semacam lem) sebagai senjatanya. Sasaran perekat itu adalah mata orang yang mengganggunya.

MENGAPA madu klanceng harganya mahal? Konsumen pada umumnya meyakini bahwa kualitasnya, terutama fruktosa dan glukosanya lebih baik dibanding madu lebah lain. Faktor kedua, jumlah produksinya masih sangat sedikit, baik secara keseluruhan maupun produksi per koloni.

Sebagai bandingan, Apis mellifera mampu menghasilkan sekitar 10 kilogram madu per koloni tiap tahun, sementara Apis florea hanya 1–2 kilogram per koloni tiap tahun.
Bagi mereka yang belum lihai membedakan madu, memang sulit membedakan madu klanceng dengan madu lebah lain. Baik tentang warna, kekentalan, maupun rasanya. Bahkan, juga sulit membedakan "madu gula" dengan "madu asli". Madu gula adalah madu lebah yang dihasilkan karena diberi makan gula/tetes, sedangkan madu asli dihasilkan oleh lebah yang mencari makan pada bunga-bunga dan tetumbuhan.

Di pasaran kita juga sering menemukan madu kopi, madu karet, madu lengkeng, madu rambutan, atau madu mixflower, dan sebagainya. Pembedaan itu berdasarkan jenis bunga yang diisap lebah, dan masing-masing jenis memiliki kelebihan maupun kekurangannya. Mahal-murahnya harga tidak selalu berhubungan dengan khasiatnya, tetapi lebih sering ditentukan oleh hukum permintaan dan penawaran.

Bahwa madu mempunyai berbagai khasiat untuk kesehatan manusia, antara lain tercantum dalam Kitab Suci Weda yang kurang lebih menyatakan: "Hidup manusia akan diperpanjang dan diawetkan jika dalam makanannya sehari-hari selalu ada madu…..," (Kompas, 15 November 1988). Dan rasanya tidak ada jeleknya kita mulai mengenal madu, apalagi mengonsumsinya secara rutin.



(Sumber : KOMPAS Senin, 07 April 2003. Oleh : JA NOERTJAHYO)

Tentang Kota Kudus

Indonesia adalah negara kepulauan yang sangat kaya raya dengan segala kekayaan alamnya dan keanekaragaman budayanya yang sudah terkenal sejak jaman nenek moyang. Kemashurannya sudah ada dan tercipta sejak raja-raja berkuasa di Bumi Jawa. Tercatat Kerajaan Majapahit dengan Patihnya Gajah Mada yang berhasil menyatukan Nusantara dengan “Sumpah Palapanya” bahkan konon beberapa negara tetangga juga berhasil ditaklukkan.

Rasanya kita sebagai generasi penerus harus banyak belajar dari para pendahulu agar Bangsa Indonesia menjadi Bangsa yang besar, dihormati dan disegani oleh negara-negara lain di dunia. Sumber daya manusia yang banyak, kekayaan alam melimpah, sampai-sampai Koes Plus menggambarkan indahnya alam Indonesia dalam salah satu lagunya ,” Tongkat Kayu dan Batu Jadi Tanaman”, adalah modal dasar buat membangun Bangsa ke depan.

Melalui catatan kecil ini saya ingin mengajak rekan-rekan untuk mengenal dan mencintai salah satu budaya Indonesia melalui Kota Kudus. Kota Kudus yang terkenal dengan Kota Kretek ternyata menyimpan sejarah yang menarik dalam perkembangan kebudayaan di daerah sekitarnya pada khususnya dan Indonesia pada umumnya. Potensi wisata, budaya setempat, kulinernya, semua menarik untuk dikaji.

Pada akhirnya saya ingin mengajak semua untuk mencintai dan bangga sebagai Bangsa Indonesia. Siapa lagi kalau bukan para generasi muda sebagai penerus tongkat estafet yang telah diberikan oleh para pendahulu kepada kita.

Kota Kudus

Orang biasanya mengenal Kota Kudus sebagai Kota Kretek dengan PT Djarum sebagai pabrik yang terbesar dan diikuti oleh pabrik-pabrik rokok lainnya. Namun lebih dari itu, Kota Kudus ternyata menyimpan sejarah panjang yang menjadi goresan tinta sejarah peradaban.
Karena terletak di jalur Pantura yang merupakan jalur perdagangan yang vital, kurang lebih 53 km dari Semarang atau sekitar 45 menit lewat perjalanan darat dari Kota Semarang menjadikan Kota Kudus sebagai daerah tujuan dagang dan wisata yang menarik untuk dikunjungi.
Nama Kudus sendiri berasal dari bahasa Arab al-Quds yang berarti suci, konon Kudus satu-satunya kota di Jawa yang mengadopsi namanya dari bahasa Arab. Walaupun karakter Islam sangat kuat di Kudus, namun pengaruh Hindu masih tetap berlaku,
Misalnya dilarang menyembelih sapi di dalam wilayah Kota Kudus. Penyebar Islam pertama di Kudus yang bernama Ja’far Shadiq atau lebih dikenal dengan Sunan Kudus mengetahui bahwa sapi adalah binatang suci Umat Hindu.
Kali Gelis yang mengalir ditengah Kota Kudus membagi wilayah menjadi dua bagian yaitu Kudus Kulon ( Barat ) dan Kudus Wetan ( timur ). Pada masa lampau, wilayah Kudus Kulon didiami oleh para pengusaha, pedagang, petani dan ulama, sedangkan Kudus Wetan dihuni oleh para priyayi, cendikiawan, guru-guru, bangsawan dan kerabat ningrat. Dalam perkembangannya ternyata Kudus Kulon lebih maju.
Masjid Kudus
Masjid Kudus dikenal oleh masyarakat karena bentuk arsitektur masjid yang merupakan perpaduan antara budaya Islam dan Hindu. Masjid yang dibangun pada tahun 1549 oleh Ja’far Shadiq memang memilki pesona yang luar biasa. Menara yang terbuat dari bata merah yang aslinya adalah menara peninggalan Hindu yang digunakan sebagai tempat pembakaran mayat para raja dan kaum bangsawan, namun sebagian lain menganggap bahwa menara tersebut adalah menara pengawas dari sebuah rumah ibadat agama Hindu sebelum diubah menjadi masjid.
Menara masjid ini berbentuk seperti Candi Singasari atau Bale Kul-Kul di Bali, sisa peninggalan dari Zaman Hindu yang telah beralih fungsi. Tinggi menara ini kira-kira 17 m dan telah berusia tujuh abad. Bangunan menara terbagi tiga yaitu kaki, badan, dan puncak bangunan. Masjid Kudus tetap mempertahankan bentuk aslinya walaupun telah mengalami beberapa kali pemugaran. Keunikan lain di serambi masjid terdapat sebuah Candi Bentar, penduduk menyebutnya Lawang Kembar yang konon berasal dari Majapahit.
Di belakang masjid adalah makam Ja’far Shadiq dan para pengikutnya yang menempati tanah dua kali lebih luas dari ukuran masjid tersebut. Seperti bentuk gapura depan, memasuki areal taman pemakaman pun yang sudah berumur ratusan tahun tetap cantik dan menarik. Dengan bergaya arsitek Hindu, masing – masing makam tersusun dengan rapi dan dibuat cluster sesuai dengan pangkatnya. Dari golongan prajurit yang paling rendah sampai dengan makam Ja’far Shadiq sendiri yang bertempat di tengah-tengah diantara semua para punggawanya.
Setiap hari selalu saja masjid ini ramai dikunjungi oleh para pengunjung, baik yang hanya sekedar ingin melihat-lihat arsitek bangunan yang unik, maupun yang ingin berziarah ke makam Ja’far Sadiq ( Sunan Kudus ). Selama acara Buka Luwur, yang diadakan tiap tanggal 10 Muharram, tirai yang terdapat di makam ini diganti dan pada saat seperti ini ribuan peziarah akan memadati kawasan makam. Apalagi lokasinya yang terletak di pusat Kota Kudus menjadikan tempat ini sangat mudah diakses, baik dengan kendaraan umum maupun kendaraan pribadi.

Kota Industri Rokok

Kudus juga terkenal karena industri rokoknya dan di kota inilah pertama kali jenis rokok kretek ditemukan oleh seorang penduduk Kudus bernama Nitisemito yang pernah menyatakan bahwa rokok kretek temuannya dapat menyembuhkan penyakit asma. Dia membuat rokok kretek dari tembakau yang dicampur dengan cengkeh yang dihaluskan dan dibungkus dengan daun jagung yang dikenal sebagai rokok klobot. Dia mulai menjual rokok klobot merek Bal Tiga pada tahun 1906.
Nitisemito mempromosikan rokok klobotnya secara intensif dengan menggunakan radio, melakukan tur dengan grup musik bahkan menyebarkan pamflet melalui udara. Akhirnya Kudus berkembang menjadi pusat industri rokok dan pernah tercatat 200 pabrik rokok beroperasi di Kudus dan sekitarnya.
Namun dalam perjalanannya, industri rokok Kudus mengalami rasionalisasi dan hanya tiga perusahaan besar yang mampu menguasai pasaran yaitu ; Bentoel di Malang, Gudang Garam di Kediri dan Djarum di Kudus. Nitisemito termasuk orang yang menjadi korban persaingan industri rokok, ia bangkrut pada tahun 1953.

Saat ini perusahaan rokok kretek utama di Kudus antara lain Djambu Bol, Nojorono, Sukun, dan Djarum. Perusahaan rokok yang terakhir ini adalah yang terbesar di Kudus yang mulai beroperasi sejak tahun 1952. Djarum memiliki pabrik rokok modern yang terletak di Jl. A yani, wisatawan dapat melakukan peninjauan ke pabrik ini tetapi harus meminta ijin terlebih dahulu seminggu sebelumnya. Pabrik rokok Sukun terletak agak di luar kota Kudus. Pabrik rokok ini masih memproduksi rokok klobot yaitu rokok tradisional dimana tembakau digulung dengan daun jagung.

Museum Kretek Kudus

Museum yang didirikan pada tahun 1996 memamerkan sejumlah foto yang menarik mengenai rokok dan alat-alat yang digunakan dalam proses membuat rokok. Museum ini memiliki diorama yang menggambarkan proses produksi rokok kretek; dari penyediaan bahan baku berupa cengkeh, tembakau, daun jagung muda hingga ke proses pengerjaannya dan pemasarannya.
Museum yang terletak di desa Getas Pejaten, sekitar 2 km dari kota Kudus ini buka dari jam 09.00 WIB hingga 16 kecuali Jum’at. Di dekat museum kretek ini terdapat rumah adat Kudus yang terbuat dari kayu penuh ukiran yang merupakan keterampilan masyarakat Kudus yang terkenal. Gaya arsitektur Kudus disebut-sebut berasal dari seorang Imigran dari Cina yang bernama Ling Sing dari abad ke 15.

Gunung Muria

Setelah lelah berkeliling Kota Kudus, silakan mampir untuk menikmati kesejukan Gunung Muria. Gunung Muria terletak 18 km sebelah utara Kota Kudus dan memiliki ketinggian kurang lebih 1700 m. diatas permukaan air laut Selain menampilkan pemandangan khas pegunungan yang indah, keberadaan makam Sunan Muria, air terjun Montel serta bumi perkemahan Hajar semakin menjadi pelengkap tempat ini sebagai salah satu tujuan tempat wisata.
Tempat penginapan sederhana namun lumayan bersih tersedia di shelter terakhir perparkiran mobil. Hotel Pesanggrahan adalah hotel yang dimiliki oleh Pemerintah dan bisa dipakai untuk umum dengan biaya antara Rp 10.000,- sampai dengan Rp 44.000,-. Jika anda ingin menemukan tantangan yang lebih besar, anda bisa mendaki ke Puncak songolikur ( 29 ) yang terletak di atas air terjun Monthel, bisa dipandu oleh pemandu setempat.

Wayang Babad Cirebon Hidup Kembali

Selain diiringi musik gamelan Kecirebonan, wayang babad ini pada beberapa bagian diiringi musik bernuansa Cina dan Arab yang menunjukkan tngginya rasa toleransi beragama di keraton-keraton Cirebon, Jabar, sekitar abad ke-15.

Konsekuensi menampilkan wayang babad, musik-musik bernuansa Cina mau pu Arab harus ditonjolkan sesuai dengan keadaan Cirebon saat itu.

Biaya menghidupkan kembali wayang babad tidak murah karena untuk membuat satu tokoh wayang saja dibutuhkan biaya sedikitnya Rp 75.000 untuk pembelian kulit dan cat. Belum lagi merancang gamelan yang bisa menghasilkan musik bernuansa Cina dan Arab.


Sumber : KOMPAS Senin, 19-07-1999

Etnis China dan Dunia Pasar seni Lukis

Kehadiran etnis China dalam dunia seni rupa Indonesia sebenarnya telah cukup lama. Pada era Soekarno, misalnya, keterlibatan etnis China dalam dunia seni rupa tampak signifikan. Terbukti pada era itu dua pelukis keturunan China, Lee Man Fong dan Lim Wa-Shim, diangkat sebagai Pelukis Istana. Di luar tembok istana bahkan berkembang jaringan kolektor yang dapat mengakses langsung Soekarno, yang kala itu memang sedang bersemangat mengoleksi lukisan. Dari jaringan itu, Soekarno banyak mendapatkan lukisan, baik lukisan bergaya China klasik maupun lukisan modern karya sejumlah pelukis Indonesia yang terkenal saat itu.

Dalam waktu kurang lebih 20 tahun terakhir, dunia seni rupa Indonesia terasa berkembang dalam format yang jomplang. Karya seni lukis diperebutkan dan seakan-akan menjadi primadona, sedangkan kerya seni grafis, seni keramik, patung hampir dapat dikatakan tak tersentuh oleh era komodifikasi. Karena itu, secara sosial sejumlah pelukis tiba-tiba melesat menjadi “seniman borjuis”. Sementara pegrafis, keramikus, dan pematung masih banyak yang hidup biasa-biasa aja.

Sejumlah pelukis tiba-tiba melesat jauh menjadi seorang jutawan, bahkan di antara mereka sudah melesat jauh menjadi seorang miliader. Di antara pelukis yang karyanya laris manis di pasar lukisan ada yang mendirikan museum pribadi, ada yang senang klenceran ke luar negri, ada yang beebrapa kali pergi haji, ada yang gemar mengoleksi mobil/motor antik dan bahkan ada yang perlu menambah istri. Hal ini sebenarnya sebagai gejala perubahan sosial yang amat menarik.


Sumber : KOMPAS Minggu,12-11-2006, Halaman 29

Penghapusan Diskriminasi, Bukan Sekadar Barongsai dan Imlek

Atraksi Barongsai yang pada masa pemerintahan orde baru dipandang sangat tabu kini digelar dari tempat-tempat terbuka hingga hotel berbintang. Televisi swasta juga sudah menayangkan berita dalam bahasa mandarin. Iklan-iklan menyongsong Hari Raya Tahun Baru Imlek (24 Januari 2001) mulai menjamur di media massa, lengkap dengan huruf Cina. Upaya penetapan imlek menjadi Hari Raya Nasional juga sudah dilakukan.

Kebebasan yang dialami masyarakat Cina itu tidak terlepas dari kebijakan pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid. Presiden Abdurrahman Wahid telah mengeluarkan Keputusan Presiden (Keppres) No 6/2000 yang mencabut Instruksi Presiden (Inpres) No 14/1967 tentang Agama, Kepercayaan, dan adat istiadat Cina. Dengan Keppres No 6/2000 itu, warga keturunan Cina diperbolehkan menyelenggarakan kegiatan keagamaan, kepercayaan dan adat istiadat Cina tanpa harus meminta izin khusus.

Di balik fenomena eforia itu, tidak berarti penghapusan diskriminasi sudah terjadi. Perlakuan itu terasa kalau masyarakat keturunan Cina berhadapan dengan instansi pemerintah di lapangan untuk mengurus surat-surat penting, seperti akte kelahiran, akte perkawinan dan paspor. Pengurusan surat-surat semacam itu sebagian didasarkan juga pada produk perundang-undangan warisan Belanda.

Perlakuan diskriminatif tidak hanya merupakan akibat produk perundang-undangan yang diskriminatif, melainkan juga kultur diskriminatif yang tercipta dan diciptakan selama puluhan tahun. Oleh karena itu, kerangka normatif dan hukum tidak serta merta dapat menghapus perlakuan, seperti perlakuan aparat pemerintah terhadap masyarakat keturunan Cina saat mengururs surat-surat penting. Upaya penghapusan itu harus juga dilakukan secara kultural.

Menurut Direktur Eksekutif Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (Elsam) Ifdal Kasim, atraksi barongsai, termasuk merayakan Hari Raya Tahun Baru Imlek dengan lebih bebas daripada masa lalu, merupakan hal yang masih baru. Namun, lama kelamaan, hal itu mengubah pola pikir aparat pelaksana birokrasi di tingkat bawah. Dengan demikian, secara kultural, masyarakat dapat terbiasa dengan kebiasaan dan adat istiadat Cina yang selama ini ditabukan.


Sumber : KOMPAS senin, 22-01-2001, Halaman 18